JAKARTA - Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (G30SPKI), peristiwa kelam yang menimpa bangsa Indonesia. Banyak nyawa melayang, hingga tujuh Pahlawan Revolusi diculik dan dibunuh.
Kemudian, mayatnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Setelah upaya pemberontakan PKI berhasil digagalkan, mayat para Pahlawan Revolusi berhasil ditemukan dalam kondisi memprihatinkan.
Delapan warga sekitar diperbantukan untuk menggali sumur tua di Lubang Buaya. Dalam video yang diunggah akun Kurator Museum di YouTube menampilkan wawancara kepada salah satu penggali makam yakni Yusuf pada 1998.
Yusuf menceritakan, saat menggali Lubang Buaya dirinya masih berusia 16 tahun. Awalnya, pada pulul 15.00 WIB, Yusuf yang merupakan anggota Hansip diminta Lurah untuk membantu membetulkan jembatan dan tak tahu jika bakal menggali Lubang Buaya.
Yusuf bergegas naik ke mobil pak Lurah yang menjemputnya dan menuju lokasi sambil menenteng cangkul. Sesampainya di lokasi, ia melihat banyak tentara bersenjata dengan baret merah dan melihat tujuh kawannya sedang memacul kebon.
“Di situ saya lihat ada Bang Ambar Suparyono, Mahmud, Mawih, saya datang ama Pane,” kata Yusuf sebagaimana dikutip Okezone dari YouTube Kurator Museum beberapa waktu lalu.
Hingga akhirnya mereka menemukan sumur selebar 4 meter yang sebelumnya ditumpuk tanah. Tentara berbaret merah memerintahkan untuk terus menggali.
Pada kedalaman tertentu mereka menemukan isi sumur berupa sayuran, potongan kain merah, kuning, hijau. “Terus ada serombongan datang bilang persisnya di sumur ini. Saya enggak tahu siapa, berpakaian tentara, ada juga pakaian coklat, enggak tau siapa,” imbuhnya.