Hal ini menandakan adanya kesaktian dari sang pangeran, mengingat kursi dari kayu jati yang berat itu dengan mudahnya diangkat dan dilemparkan ke Patih Danurejo 3. Tetapi karena sang patih juga memiliki kesaktian, maka ia juga tak mengalami luka sama sekali, meski pada akhirnya Patih Danurejo 3 malu dengan tamu-tamu yang lain.
"Pangeran Diponegoro ini bukan orang kosongan ya dalam artian punya kesaktian, artinya yang gampar orang sakti, yang digampar juga orang sakti, sama-sama orang sakti, Patih Danurejo ya nggak mengalami luka, tapi malunya tujuh turunan," kata dia.
(Arief Setyadi )