Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Profil M. Tabrani, Bapak Bahasa Indonesia yang Dianugerahi Pahlawan Nasional

Putri Amanda , Jurnalis-Kamis, 09 November 2023 |05:15 WIB
Profil M. Tabrani, Bapak Bahasa Indonesia yang Dianugerahi Pahlawan Nasional
M Tabrani (Foto: Wikipedia)
A
A
A

JAKARTA - Kongres Pemuda kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928 merupakan kelanjutan dari konferensi serupa yang diadakan dua tahun sebelumnya. Salah satu tokoh yang berperan penting dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda yang berlangsung pada 30 April – 2 Mei 1926 adalah Mohammad Tabrani, ketua Kongres Pemuda Pertama.

Mohammad Tabrani giat menyerukan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan oleh kaum terpelajar Bumiputra. Tabrani bahkan dianggap sebagai pencetus pertama nama bahasa Indonesia. Ia pun dijuluki sebagai Bapak Bahasa Indonesia.

Tulisan ini akan akan membahas sosok Mohammad Tabrani, yang pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2023 mendapatkan anugerah Pahlawan Nasional. Berikut ulasannya:

Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, lahir pada 10 Oktober 1904 di Pamekasan, Madura. Lahir dari pasangan M.Soerowitjitrodan Siti Aminah, Tabrani merupakan salah satu dari delapan bersaudara dan mengenyam pendidikan sekolah dasar. Kebetulan, ayah Tabrani adalah seorang pegawai negeri sipil.

Buku autobiografinya, Anak Nakal Banyak Akal (1979), mencatat pendidikan Tabrani dimulai dari tingkat HIS di Pamekasan pada 1910. Pada 1917, Tabrani melanjutkan pendidikannya di Mulo Praban, Surabaya.

Pada kelas 1, ia terpilih sebagai anggota Jong Java cabang Surabaya. Setahun kemudian, ia telah menghadiri Kongres Jong Java di Solo.

Setelah lulus dari MULO, Tabrani melanjutkan studinya di AMS di Bandung. Di kota inilah ia bergabung dengan sebuah organisasi pergerakan rahasia bernama Orde der Dienaren van Indie.

Organisasi yang memiliki visi kemerdekaan Indonesia ini beranggotakan 50 orang, termasuk Mohammad Yamin, Supomo, dan Salmidi Mangunsarkoro.

Pada 1923, Tabrani memutuskan untuk pindah ke OSVIA di Serang. Namun, setelah belajar di sana selama satu tahun, ia memutuskan untuk pindah ke OSVIA di Bandung. Hal ini dikarenakan Bandung merupakan pusat dari Dienaren van Indie.

Selama belajar di sekolah calon pegawai negeri, Tabrani aktif berkontribusi di harian berbahasa Belanda, De Locomotief.

Tabrani kemudian belajar sejarah, ekonomi dan hukum di Rechts Hooge School. Selain kuliah, ia juga menjadi pemimpin redaksi surat kabar Hindia Baroe sejak Juli 1925.

Setelah kongres pemuda pertama yang sukses, Tabrani memutuskan untuk berangkat ke Belanda pada 13 Juli 1927.

Namun, ia kecewa karena tidak dapat belajar jurnalistik yang ia cintai. Maka ia memutuskan untuk bekerja di surat kabar harian De Telegraaf, Rotterdamsc Niewsblad dan Het Volk dan mengirimkan tulisannya ke surat kabar di negaranya.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement