Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah M Jasin, Jenderal Bintang Tiga yang Berani Menantang Kediktatoran Soeharto

Edgar Ibrania Nicolas , Jurnalis-Senin, 27 November 2023 |16:54 WIB
Kisah M Jasin, Jenderal Bintang Tiga yang Berani Menantang Kediktatoran Soeharto
Mantan Presiden Soeharto/ist
A
A
A

JAKARTA – Kisah M Jasin, jenderal yang berani menantang kediktatoran Soeharto, akan dibahas lengkap dalam artikel ini.

Letjen TNI (Purn) Mochamad Jasin adalah salah satu mantan Jenderal yang berani mengkritik dan menentang Soeharto habis-habisan bahkan sampai masa pemerintahan Presiden Indonesia ke-2 itu runtuh.

Dia dikenal sebagai Jenderal yang tetap bertahan mengkritik pemerintahan Soeharto walaupun selalu dirana olehnya.

Dalam biografi Soeharto berjudul Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second Presiden mencatat Jasin adalah salah satu lawan utama sang Presiden

Pada masa Orde Lama, Jasin dikenal sebagai perwira intelektual, yang mengajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD), bahkan Soeharto sendiri pernah menjadi murid Jasin saat “disekolahkan” karena kasus penyeludupan.

Jasin juga pernah berperan menyelesaikan perlawanan Darul Islam pimpinan Daud Beureuh secara damai. Selain itu, Jasin juga pernah menjabat sebagai Panglima Brawijaya pada tahun 1967, untuk membersihkan unsur komunis di Jawa Timur dalam operasi Trisula.

Permasalahannya dengan Soeharto dimulai saat Jasin meminta kepada Soeharto untuk menyediakan truk bermuatan tiga ton untuk mengangkut pasukan pengamanan Pemilu di daerah-daerah.

Tetapi Soeharto malah menawarkan truk bermuatan lima ton, lantas Jasin menolak tawaran tersebut karena truk besar akan merusak jalan-jalan daerah. Soeharto pun mengancam kalau Jasin tidak mau truk itu, maka dia tidak akan mendapatkan satu truk sekali pun.

Setelah Jasin mengundurkan diri pun, dirinya semakin kritis dalam mengkritik rezim Soeharto yang menggunakan kekuasan dan fasilitas negara untuk bisnis keluarganya. Seperti kasus yang terkenal yaitu usaha peternakan sapi di Tapos, Bogor, monopoli cengkeh pada pabrik-pabrik rokok dan lain sebagainya.

Jasin juga mengkritik Peraturan Presiden (PP) No. 6 dan 10 tahun 1974, yang dikeluarkan Soeharto agar melarang pejabat negara dan keluarganya berbisnis. Menurutnya Soeharto tidak pantas mengeluarkan peraturan yang dilanggarnya sendiri itu.

“Tetapi untuk apa bikin peraturan sangat muluk kalau kemudian dilanggarnya sendiri? Inilah contoh pemimpin munafik,” jelas Jasin dalam kumpulan tulisan Warisan (daripada) Soeharto.

Perjuangan mengkritik rezim Soeharto semakin nyata saat Jasin bergabung dalam penandatangan Petisi 50, bersama sejumlah mantan jenderal, pejabat, dan jurnalis senior lainnya, seperti Jenderal A.H Nasution, mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, serta Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan Mohammad Natsir.

Petisi 50 adalah dokumen yang berisi protes penggunaan filsafat Pancasila oleh Soeharto terhadap lawan-lawan politiknya.

Walaupun setelahnya Jasin diseret ke pengadilan dan dipaksa meminta maaf, tetapi sampai akhir hayatnya Jasin tegas tidak akan pernah meminta maaf. Jasin wafat pada 7 April 2013 sehingga sempat melihat rezim yang ditentangnya tumbang dilengserkan rakyat Indonesia.

(Fahmi Firdaus )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement