Untuk mengatasi masa sulit mereka, penduduk Kebon Kacang mengambil air dari sungai untuk keperluan minum dan masak serta menggunakan semak belukar yang berada di sekitar kebun sebagai sumber bahan bakar mereka.
Untuk makan, mereka memperoleh pangan dari hasil tangkapan ikan dan tanaman yang mereka tanam sendiri. Seiring berjalannya waktu, bangunan awal berupa gubuk perlahan berkembang menjadi rumah-rumah sederhana.
Mereka menggunakan rumpun bambu dan pohon kelapa sebagai bahan bangunan utama, dan wilayah ini pun terus mengalami perkembangan dengan berdirinya berbagai rumah hingga setelah Indonesia berhasil merdeka, kehidupan Kebon Kacang kembali normal semula.
Perkembangan Kebon Kacang
Pada masa jabatan Gubernur Ali Sadikin, Kampung Kebon Kacang mengalami perubahan pesat menjadi wilayah permukiman dan perkantoran yang modern yang terjadi sejak tahun 1965-1981, yang kerap disebut sebagai masa pembangunan, melihat banyaknya pembangunan yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah.
Hingga kini, Kebon Kacang telah menjadi salah satu pusat perkantoran dan perdagangan di Jakarta yang menyimpan sejarah dan asal usul menarik, menjadi saksi bisu perkembangan Kota Jakarta sejak masa penjajahan di masa lampau.
Wilayah ini telah mengalami perubahan pesat dari wilayah pinggiran yang dipenuhi dengan kebun kacang, hingga menjadi pusat kuliner yang memiliki berbagai restoran yang menyajikan berbagai hidangan baik tradisional hingga hidangan internasional.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.