Bangunan itu konon memang diperuntukkan untuk masyarakat yang memiliki penyakit lepra. Sebab penyakit lepra saat itu merupakan penyakit menular yang membahayakan, seperti penyakit Covid-19 yang sempat melanda.
"Kita tahu ada masa-masa tertentu di mana penyakit lepra itu dianggap sebagai penyakit berbahaya dan masyarakat ketakutan. Untuk penyembuhan penyakit itu dibuatkan bangunan suci yang secara khusus, untuk memuja kepada Dewa Siwa, ecwara itu sebutan Dewa Siwa supaya terhindar dari penyakit lepra," papar akademisi Universitas Negeri Malang (UM) ini.
Nama Malang Kucecwara sendiri muncul dari Dosen Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Woyo Waskito, yang menemukan kalimat Malang Kucecwara dalam prasasti peninggalan Raja Balitung. Padahal saat itu memang Prasasti Ukirnegara, belum ditemukan sehingga rujukan sementara didasari pada prasasti peninggalan Dyah Balitung.
"Ketika Pak Woyo berpendapat itu (asal usul Malang dari Malang Kucecwara), Prasasti Ukirnegara belum ditemukan. Pada prasasti itu terdapat kata Malangkucecwara, maka dipendapati asal kata Malang itu Malangkucecwara," terangnya.
Maka ketika Prasasti Ukirnegara ditemukan, tinjauan asal usul kata Malang dari kalimat Malangkucecwara, dikaji ulang. Sebab pada Prasasti Ukirnegara ditemukan bahwa ada sebuah daerah bernama Malang, terletak di sebelah timur Gunung Kawi saat ini.
"Dulu belum ketemu Prasasti Ukirnegara, setelah ketemu Prasasti Ukirnegara pendapat itu di-review ditinjau ulang, kalau memang tidak akurat ya ditinggalkan. Tapi sekarang kan tetap dipakai. Karena menganggapnya malang itu dari Malang Kucecwara," bebernya
"Apalagi malang menghancurkan kebatilan, itu dihubung-hubungkan. Itu bangunan suci bukan menghancurkan kebatilan, itu bangunan suci untuk meniadakan penyakit, yang dimaksud malanya itu, mala penyakit," tukasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.