Salah satu pemain musik dalam kolaborasi ini, Gilang Zildjian, berbagi pengalamannya atas keterlibatannya dalam karya kolaboratif yang luar biasa ini. "Saya belajar banyak tentang tradisi Melayu dan bagaimana kolaborasi bisa menjadi cara yang efektif untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal," tuturnya.
Ketika ditanya tentang pentingnya kolaborasi dalam karya ini, Gilang menekankan bahwa gotong royong adalah inti dari setiap tradisi Melayu. "Gotong royong dalam tradisi ini bukan hanya soal bekerja bersama, tetapi juga soal berbagi semangat dan tujuan yang sama untuk melestarikan budaya kita," pungkasnya.
Melalui kolaborasi ini, Festival Payung Api berhasil menggambarkan bahwa nilai-nilai tradisi bisa terus dilestarikan dan dihidupkan dalam bentuk yang relevan dengan zaman sekarang. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi refleksi tentang pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya.
Karya "Payung Api" membuktikan bahwa meskipun tradisi kuno mungkin tidak lagi memiliki fungsi praktis seperti dulu, nilai-nilai dan makna yang terkandung di dalamnya tetap relevan dan harus dijaga. Dengan semangat gotong royong dan inovasi yang terus berkembang, tradisi seperti Payung Api akan terus menjadi cahaya yang menerangi perjalanan budaya Melayu dari generasi ke generasi.
Festival Payung Api yang digelar di Kabupaten Jabung Tanjung Barat ini merupakan satu dari 12 festival budaya Kenduri Swarnabhumi 2024 yang diharapkan menjadi katalis bagi upaya pelestarian budaya dan lingkungan di sepanjang DAS Batanghari, membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan nenek moyang untuk generasi mendatang. Kenduri Swarnabhumi sendiri akan digelar di daerah aliran sungai (DAS) Batanghari, yakni di 10 Kabupaten/Kota se-Provinsi Jambi dan satu Kabupaten
Dharmasraya, Sumatera Barat.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.