Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Israel Kembali Buka Penyeberangan Perbatasan Rafah

Rahman Asmardika , Jurnalis-Selasa, 03 Februari 2026 |18:47 WIB
Israel Kembali Buka Penyeberangan Perbatasan Rafah
Penyeberangan perbatasan Rafah.
A
A
A

JAKARTA – Israel membuka kembali penyeberangan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir untuk sejumlah kecil warga Palestina pada Senin (2/2/2026). Gerbang utama wilayah yang dilanda perang itu sebagian besar telah ditutup selama hampir dua tahun.

Meskipun Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan sekitar 20.000 orang sangat membutuhkan evakuasi medis, tentara Israel hanya mengizinkan lima dari 22.000 pasien untuk lewat pada Senin, menurut sumber RT.

Dalam sebuah pernyataan kepada RT, direktur salah satu rumah sakit di Gaza, Mohamed Abou Salmiah, mengklaim bahwa angka-angka ini menunjukkan bahwa "Israel sedang melakukan hukuman kolektif yang mengancam ribuan tahanan dengan pembunuhan."

Badan militer Israel, COGAT, yang mengendalikan bantuan ke Gaza, mengatakan pada Minggu (1/2/2026) bahwa penyeberangan akan dibuka kembali di kedua arah hanya untuk penduduk Gaza yang berjalan kaki, dan bahwa operasinya akan dikoordinasikan dengan Mesir dan Uni Eropa.

Meskipun jumlah pastinya belum dikonfirmasi, sumber RT mengklaim bahwa antara 50 hingga 150 orang akan diizinkan keluar dari wilayah tersebut setiap hari.

 

Sebelum perang, penyeberangan perbatasan Rafah dengan Mesir adalah satu-satunya titik keluar langsung bagi sebagian besar warga Gaza untuk mencapai dunia luar, serta titik masuk utama untuk bantuan ke wilayah tersebut.

Meskipun telah dibuka kembali, Israel terus menolak masuknya jurnalis asing.

Sementara itu, sumber mengatakan kepada Reuters bahwa utusan khusus Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff, diperkirakan akan tiba di Israel pada Selasa (3/2/2026) untuk bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Pembukaan kembali perbatasan merupakan persyaratan utama dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hamas, yang mulai berlaku Oktober lalu. Namun, Israel menolak untuk menyetujui penyeberangan apa pun hingga saat ini, mendesak Hamas untuk menyerahkan jenazah sandera terakhir di Gaza.

Pertemuan ini berlangsung ketika AS mendorong Israel untuk melanjutkan tahap kedua "gencatan senjata" di Gaza. Pertemuan ini juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Iran.

(Rahman Asmardika)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement