Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ormas Islam Diundang Prabowo ke Istana, Waketum MUI: Bahas Board of Peace

Binti Mufarida , Jurnalis-Selasa, 03 Februari 2026 |10:46 WIB
 Ormas Islam Diundang Prabowo ke Istana, Waketum MUI: Bahas <i>Board of Peace</i>
Waketum MUI Cholil Nafis (foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis mengungkapkan bahwa MUI diundang Presiden Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026) siang.

"Ya saya juga diundang siang ini," katanya kepada awak media.

Cholil Nafis pun mengatakan, bahwa dalam pertemuan itu diagendakan akan membahas mengenai keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace atau Dewan Keamanan bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Yang sampai ke saya tentang BoP," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menanggapi adanya aspirasi dari MUI yang meminta agar Indonesia mengundurkan diri dari keanggotaan Board of Peace.

Prasetyo menyatakan bahwa pemerintah akan segera membuka ruang dialog dengan MUI untuk memberikan pemahaman mengenai alasan strategis di balik bergabungnya Indonesia dalam forum tersebut.

“Kita nanti akan berdialog dengan MUI dan kami yakin akan memberikan penjelasan kenapa kita memutuskan untuk bergabung di Board of Peace ini. Itu kan bagian dari cara kita membangun dialog,” jelas Prasetyo kepada awak media di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin 2 Februari 2026.

 

Menurutnya, bergabungnya Indonesia di BoP merupakan langkah taktis agar suara Indonesia dalam membela Palestina dapat didengar langsung di meja perundingan. Ia menilai, keluar dari forum justru akan membatasi ruang gerak Indonesia dalam memperjuangkan kedaulatan Palestina.

“Kalau kita tidak ikut bergabung, bagaimana kita berdialog untuk memberikan masukan dan memberikan pendapat? Ini adalah cara kita memastikan perjuangan agar bangsa Palestina bisa diakui kemerdekaannya,” pungkasnya.

Sementara, MUI menilai keikutsertaan tersebut berpotensi bertentangan dengan amanat konstitusi serta membuka ruang bagi praktik neokolonialisme gaya baru dalam balutan diplomasi perdamaian.

Kritik ini menguat seiring komitmen Indonesia sebagai anggota BoP, termasuk adanya pembahasan kontribusi dana awal sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 16 triliun, yang disebut sebagai bagian dari mekanisme keanggotaan forum tersebut.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim, menegaskan bergabungnya Indonesia ke dalam BoP tidak bisa dibenarkan hanya dengan narasi “diplomasi dari dalam”. Menurutnya, posisi Indonesia di forum itu justru rawan dimanfaatkan sebagai legitimasi moral bagi Israel.

“Tanpa garis merah yang tegas, keikutsertaan Indonesia hanya akan berfungsi sebagai legitimasi moral. Forum ini menyetarakan Israel dengan negara lain, padahal Israel adalah occupying power yang secara nyata melanggar hukum humaniter internasional,” ujar Sudarnoto dalam keterangannya.

MUI menilai, dengan duduk satu meja bersama Israel dalam format yang setara, Indonesia berisiko melemahkan posisi historisnya sebagai negara yang konsisten menolak penjajahan dan mendukung kemerdekaan Palestina.

(Danang Kurniawan)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement