JAKARTA — Pihak berwenang China mengambil tindakan untuk menghentikan prosesi keagamaan tradisional Ying Laoye di beberapa wilayah Negeri Tirai Bambu. Insiden terkait prosesi Ying Laoye di Jiangxi dan Guangdong dilaporkan melibatkan polisi yang menggunakan kekerasan untuk menindak massa.
Prosesi Ying Laoye, atau Pawai Leluhur, dulu dianggap sebagai tradisi tidak berbahaya dan merupakan bagian khas dari perayaan Tahun Baru Imlek. Dua insiden baru-baru ini di Guangdong dan Jiangxi menunjukkan bahwa otoritas China memperketat pengawasan dan kendali terhadap kegiatan keagamaan serta komunal akar rumput.
Dilansir dari laporan Bitter Winter, Rabu (11/3/2026), di Desa Changmei, Chaozhou, Guangdong, prosesi Ying Laoye telah berlangsung selama beberapa generasi. Penduduk desa biasanya membawa patung dewa setempat keluar dari kuil dan melalui jalan-jalan untuk memberkati komunitas mereka. Namun, pada malam 2 Maret, petugas polisi memblokir gerbang kuil dengan maksud menghentikan ritual tersebut.
Suasana sempat tegang, tetapi pemuda desa menerobos barisan polisi, membuka jalan menuju kuil, dan mengeluarkan patung tersebut. Prosesi kemudian berlanjut dengan damai seperti biasanya.
Upaya menghentikan kebiasaan rakyat yang tidak berbahaya—yang tidak memiliki ikatan politik maupun sejarah kerusuhan—menunjukkan bagaimana bahkan ekspresi kepercayaan tradisional kini dipandang dengan curiga.
Situasi serupa terjadi beberapa hari sebelumnya di Desa Qusha, Provinsi Jiangxi, di mana pemerintah setempat berjanji membangun kembali balai leluhur setelah merobohkan yang lama. Setelah pembongkaran selesai, janji itu lenyap. Ketika penduduk desa mencoba memulai pembangunan pada 28 Februari, petugas pemerintah datang untuk mencegah mereka dengan menggunakan kekerasan. Balai leluhur, yang sangat penting bagi identitas garis keturunan dan persatuan komunitas, diperlakukan bukan sebagai warisan budaya, melainkan sebagai bangunan keagamaan tidak sah yang harus ditindak.
Meskipun berbeda, kedua peristiwa ini mencerminkan logika yang sama. Ritual yang diselenggarakan komunitas semakin dicap sebagai “pertemuan yang tidak terkendali.”
Balai dan kuil leluhur didefinisikan ulang sebagai “bangunan ilegal” atau “sisa-sisa feodal.” Pejabat setempat, di bawah tekanan untuk meminimalkan kehidupan keagamaan yang terlihat, ikut campur bahkan ketika tradisi-tradisi ini damai, apolitis, dan berakar kuat dalam identitas lokal. Hal ini mengakibatkan erosi perlahan pada ruang-ruang—baik fisik maupun simbolis—di mana komunitas pedesaan terhubung dengan masa lalu mereka.
Respons penduduk desa dengan menerobos blokade polisi untuk melindungi ritual di Guangdong, serta upaya membangun kembali balai leluhur di Jiangxi, menunjukkan perlawanan. Meski tindakan ini kecil, lokal, dan tidak terorganisir, hal tersebut menegaskan betapa pentingnya tradisi ini bagi masyarakat untuk terus dilestarikan.
Laporan mengenai pengekangan terhadap agama rakyat di China kerap tertutupi oleh dugaan upaya yang lebih terlihat terhadap agama-agama besar. Namun, tekanan itu juga meluas ke kehidupan pedesaan sehari-hari, menargetkan kebiasaan yang telah bertahan melalui dinasti, revolusi, dan modernisasi.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.