Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Proposal Perdamaian Parsial Iran ke Amerika Serikat

Opini , Jurnalis-Rabu, 29 April 2026 |18:39 WIB
Proposal Perdamaian Parsial Iran ke Amerika Serikat
Ridwan Al Makassary (Foto: Dok)
A
A
A

Sejarah konflik Timur Tengah mengajarkan bahwa gencatan senjata tanpa resolusi yang fundamental acap berakhir sebagai jeda taktis. Bukan transformasi strategis. Ia tidak saja memberi ruang menghela napas, tetapi juga memberi waktu bagi konflik untuk beradaptasi dan menemukan bentuk baru. Dalam konteks ini, proposal Iran berisiko menciptakan ilusi diplomasi, yang AS tapaknya akan menolaknya. Dan, penolakan itu justru jujur. Sebab, membuka Hormuz tanpa menyelesaikan masalah nuklir seperti membuka pintu rumah bagi pencuri dengan imbalan ia tidak merusak teras, sedangkan di dalam ia tetap meracik bom. Kira-kira demikian, yang ada di pikiran AS. 

Namun, sikap ini juga menyimpan kekakuan yang problematis. Dengan menolak pendekatan parsial, AS secara tidak langsung menutup kemungkinan de-eskalasi jangka pendek yang bisa mencegah konflik meluas. Akhirnya, kedua pihak terjebak dalam logika yang saling mengasikan, meniadakan. Iran menawarkan perdamaian yang mungkin dicapai, tetapi tidak cukup mendalam. AS menuntut perdamaian yang menyeluruh, tetapi sulit diwujudkan dalam waktu dekat. Di antara keduanya, diplomasi kehilangan fleksibilitas sekaligus keberanian. 

Dunia akan kembali menyaksikan paradoks yang berulang, di mana semua pihak berbicara tentang perdamaian, tetapi dengan definisi yang berbeda. Bagi Iran, perdamaian dimulai dari stabilitas kawasan dan normalisasi ekonomi. Bagi AS, perdamaian hanya mungkin jika ancaman nuklir diselesaikan terlebih dahulu. Kedua pendekatan ini tidak sepenuhnya salah. Namun tanpa titik temu, keduanya justru hanya memperpanjang kebuntuan.

Pungkasannya, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukan lagi apakah proposal Iran realistis, melainkan apakah ia memadai? Realisme dalam diplomasi acap berarti menerima keterbatasan. Namun, ketika keterbatasan itu berubah menjadi kebiasaan untuk menghindari inti persoalan, maka diplomasi kehilangan maknanya sebagai alat penyelesaian konflik. Tampaknya dunia mesti menunggu lebih lama untuk penghentian senjata permanen.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement