Kelompok-kelompok bersenjata tersebut membantah bertanggung jawab, menyebut tuduhan Riyadh sebagai "rekayasa" dan memperingatkan terhadap tindakan militer di dalam Irak.
Serangan terbaru ini menggarisbawahi perjuangan Irak yang berkelanjutan untuk menyeimbangkan hubungan dengan dua mitra utamanya, Amerika Serikat dan Iran, yang persaingannya telah berulang kali mengubah negara itu menjadi medan pertempuran untuk konflik proksi.
Perdana Menteri Ali al-Zaidi, yang menjabat awal tahun ini, telah berjanji untuk memperketat pengawasan negara terhadap kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran dan memastikan mereka menyerahkan senjata mereka, tetapi menghadapi perlawanan dari faksi-faksi berpengaruh.
Zaidi mengunjungi Washington dan Teheran awal bulan ini dalam upaya untuk meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas Irak yang rapuh.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.