Arah penanganan tersebut mulai bergerak menuju mitigasi untuk mengurangi risiko kerusakan ketika bencana kembali terjadi.
Di kawasan Gunung Marapi, Sumatera Barat, pembangunan delapan sabo dam tahap pertama dimulai pada Maret 2026. Lima berada di Kabupaten Tanah Datar dan tiga lainnya di Kabupaten Agam.
Delapan sabo dam itu dirancang memiliki kapasitas tampung sedimen sekitar 440.000 meter kubik.
Pemerintah merencanakan pembangunan 56 sabo dam secara bertahap di 24 sungai sepanjang 2026-2029. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk menahan material dan mengurangi dampak apabila aktivitas Gunung Marapi kembali memicu aliran material ke wilayah di bawahnya.
Dari Sumatera hingga NTT, Dody menghadapi pola tantangan yang hampir sama: bergerak cepat saat bencana terjadi, mengembalikan konektivitas dan layanan dasar, lalu menjaga pemulihan berlanjut setelah keadaan darurat berakhir.
"Kecepatan di hari-hari pertama menjadi penting karena akses yang terputus ikut menghambat distribusi bantuan dan pelayanan kepada masyarakat," ujarnya.
Namun, pekerjaan tidak berhenti setelah jalan dapat kembali dilalui.
"Pemulihan air bersih, hunian, irigasi, bendung hingga pembangunan infrastruktur mitigasi menjadi pekerjaan berikutnya untuk memastikan wilayah terdampak tidak hanya kembali berfungsi, tetapi juga lebih siap menghadapi ancaman berikutnya," pungkasnya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.