Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Perang Dagang dengan Kanada, Trump Ingin Ubah Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika

Rahman Asmardika , Jurnalis-Rabu, 26 Agustus 2026 |01:05 WIB
Perang Dagang dengan Kanada, Trump Ingin Ubah Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika
Ilustrasi. (Foto: AP)
A
A
A

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Washington sedang mempertimbangkan untuk "mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika" di tengah kembali memanasnya ketegangan perdagangan dengan Kanada.

"Amerika Serikat sedang mempertimbangkan dengan serius untuk mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika, mengingat kami tidak lagi berencana melakukan banyak bisnis dengan Ontario," tulis Trump di platform Truth Social miliknya pada Selasa (25/8/2026).

Danau Ontario berbatasan dengan provinsi Ontario, Kanada, di sebelah utara dan negara bagian New York, AS, di sebelah selatan, dengan garis perbatasan Kanada-AS melintasi danau tersebut.

Pada Senin (24/8/2026), Trump mengatakan bahwa Kanada adalah "salah satu negara yang paling sulit diajak bekerja sama di dunia. Mereka merasa berhak menuntut, padahal kita tidak membutuhkan Kanada; merekalah yang membutuhkan kita."

Menyusul kegagalan negosiasi, tarif AS sebesar 50 persen terhadap barang-barang Kanada mulai berlaku pada Sabtu (22/8/2026).

Trump juga mengumumkan bahwa tambahan tarif sebesar 50 persen untuk mobil, truk, dan suku cadang otomotif asal Kanada akan mulai berlaku pada 1 Januari 2027, setelah perundingan gagal menghasilkan kesepakatan.

Premier Ontario Doug Ford dan Trump saling melontarkan hinaan pada Senin menyusul kegagalan pembicaraan perdagangan antara Kanada dan AS.

Ford menyebut Trump sebagai "diktator" dan "raja kebangkrutan" setelah presiden AS tersebut mengkritiknya di platform media sosial miliknya sendiri, Truth Social.

Serangan Baru

Trump mengulangi klaimnya bahwa Kanada "tidak akan bisa bertahan" tanpa AS dan menyebut Perdana Menteri Kanada Mark Carney sebagai "Gubernur Carney", merujuk pada dorongannya agar Kanada menjadi negara bagian ke-51.

Trump juga mengatakan di Truth Social bahwa ia "tidak akan pernah mencampuri urusan warga Kanada yang berbahasa Prancis! Bahkan, saya tidak pernah terpikir untuk melakukan hal bodoh seperti itu."

"Seorang perdana menteri yang lemah dan tidak kompeten mengarang kebohongan ini demi mendapatkan dukungan politik—yang sebenarnya sudah hilang sepenuhnya—dari masyarakat Quebec. Saya mencintai warga Kanada penutur bahasa Prancis!" tulisnya sebagaimana dilansir TRT.

Pada Senin, Carney menyatakan bahwa Kanada "tidak dapat menerima" usulan perjanjian perdagangan yang akan melemahkan perlindungan terhadap bahasa Prancis.

AS ingin mengubah undang-undang Quebec yang mewajibkan perusahaan Amerika menyediakan panduan penggunaan, kemasan, garansi, dan perangkat lunak dalam bahasa Prancis untuk peralatan dan gawai mereka.

Gedung Putih sebelumnya menuding adanya "perlakuan diskriminatif" oleh Kanada terhadap produk minuman keras, otomotif, dan susu asal AS dalam penerapan bea masuk tersebut.

Trump sempat menunda penerapannya selama tiga hari pada pekan lalu saat Washington dan Ottawa meningkatkan negosiasi menuju kesepakatan perdagangan.

Namun, bea masuk yang tinggi itu akhirnya diberlakukan pada Sabtu karena kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan; kebijakan ini berdampak pada sekitar 5,5 persen barang Kanada yang masuk ke Amerika Serikat, atau produk senilai sekitar 20 miliar dolar AS yang mencakup berbagai barang mulai dari tongkat hoki hingga semen.

Carney kemudian mengumumkan penerapan tarif balasan terhadap AS setelah menolak apa yang ia sebut sebagai "kesepakatan buruk".

Ia juga menuduh Washington melakukan "manuver kekuasaan" di saat-saat terakhir, dengan mengatakan bahwa AS berupaya membatasi kemampuan Kanada untuk menegosiasikan kesepakatan perdagangan dengan negara-negara lain.
 

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement