“Peninjauan ini untuk memastikan bahwa pergeseran jagung SPHP bagi kebutuhan pakan ternak, khususnya peternak mikro di Pulau Jawa, benar-benar berjalan dan dapat dikirim secepatnya. Ini merupakan tindak lanjut dari aspirasi para peternak yang disampaikan di DPR RI dan langsung kami respons dengan mempercepat pengiriman jagung dari daerah-daerah sentra produksi,” ujar Ahmad Rizal.
Saat melakukan pemeriksaan langsung di atas kapal, Ahmad Rizal memastikan bahwa dari total kapasitas angkut 10.000 ton, sebanyak 8.214 ton jagung telah berhasil dimuat. Proses pemuatan ditargetkan selesai pada malam hari agar kapal dapat bertolak paling lambat Jumat, 23 Oktober 2026 pagi.
Dengan estimasi pelayaran selama tiga hari, jagung tersebut diharapkan segera tiba di Pelabuhan Tanjung Perak untuk diteruskan kepada peternak mikro di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Harapan saya maksimal tiga hari jagung ini sudah sampai di Tanjung Perak dan siap disalurkan kepada seluruh peternak mikro di Pulau Jawa. Kami ingin memastikan distribusinya berjalan cepat agar kebutuhan peternak dapat segera terpenuhi. Pemerintah selalu hadir dan merespons dengan cepat kebutuhan masyarakat, termasuk para peternak mikro,” kata Ahmad Rizal.
Selain pengiriman 10.000 ton dari Sulawesi Selatan, BULOG juga mempersiapkan pengiriman sekitar 15.000 ton jagung dari Gorontalo. Sementara itu, mobilisasi sekitar 8.000 ton jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) terus dilakukan melalui jalur laut maupun darat, termasuk melalui penyeberangan Bali menuju Jawa Timur.