Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Hari Santri Nasional Jadi Momentum Perkuat Komitmen Cetak Generasi Emas

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Jum'at, 23 Oktober 2026 |18:53 WIB
Hari Santri Nasional Jadi Momentum Perkuat Komitmen Cetak Generasi Emas
Hari Santri Nasional Jadi Momentum Perkuat Komitmen Cetak Generasi Emas
A
A
A

JAKARTA  - Menteri Agama Nasaruddin Umar telah menyiapkan lima program strategis untuk memperkuat masa depan santri dan pesantren di Indonesia. Langkah ini menjadi bentuk rekognisi, afirmasi, dan pelembagaan komitmen negara kepada pesantren, sehingga santri mendapatkan ruang fasilitasi penuh untuk tumbuh berdaya.

Sekadar diketahui, momen Hari Santri Nasional digelar untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Delapan puluh satu tahun yang lalu,  Hadratus Syekh Kiai Hasyim Asy'ari mewakili seluruh warga pesantren mengumandangkan Resolusi Jihad. Sebuah fatwa monumental yang menegaskan bahwa membela NKRI adalah fardhu 'ain dan mempertahankan kemerdekaan adalah ibadah tertinggi.

“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” ujar Nasaruddin saat memimpin upacara Peringatan Hari Santri 2026 bertema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas" di Gedung Kemenag.

Sementara itu, Pemprov Jawa Tengah memperkuat pendidikan, memberikan beasiswa kepada sekitar 480 santri, mendorong penguasaan teknologi, dan meningkatkan perlindungan di lingkungan pesantren untuk menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, penguatan peran santri tidak cukup hanya melalui pendidikan agama, tetapi juga perlu didukung keterampilan teknologi, akses pendidikan tinggi, pemberdayaan ekonomi, serta perlindungan dari kekerasan dan perundungan.

Menurut Taj Yasin, Pemprov Jawa Tengah menjalankan program Pesantren Obah untuk memperkuat pendidikan pesantren sekaligus membekali santri dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

“Program tersebut mencakup yang pertama adalah pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh santri yang di pesantren belum ada, dan menguatkan pendidikan-pendidikan yang ada di pesantren untuk semakin dikenal oleh masyarakat dan diterapkan di masyarakat,” kata Taj Yasin.

Salah satu fokus pengembangan santri adalah kemampuan memanfaatkan teknologi dan media digital. Santri didorong tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan konten positif yang dapat menjangkau masyarakat luas.

Pemprov Jateng, kata Taj Yasin, mendorong pelatihan media dan teknologi agar santri mampu menyampaikan nilai-nilai keagamaan secara menarik, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di era digital.

 

Upaya ini sejalan dengan tantangan menuju Indonesia Emas 2045, ketika generasi muda dituntut memiliki kompetensi, daya saing, dan kemampuan beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai moral.

Dukungan pemerintah daerah juga diarahkan pada perluasan akses pendidikan. Taj Yasin menyebutkan, Pemprov Jateng memfasilitasi beasiswa bagi sekitar 480 santri yang tersebar di sejumlah perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi berbasis pesantren dan kampus umum di Jawa Tengah.

Pemerintah provinsi juga memfasilitasi santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Salah satu program yang disampaikan Taj Yasin adalah pengiriman santri ke Universitas Al-Azhar, Mesir, untuk menempuh pendidikan di bidang kedokteran, tidak hanya pada bidang keagamaan.

Menurutnya, kesempatan tersebut menunjukkan bahwa santri perlu mendapatkan ruang untuk mengembangkan kompetensi di berbagai disiplin ilmu sesuai kebutuhan bangsa.

Pemprov Jateng juga mendorong kolaborasi antara pesantren dan perguruan tinggi untuk memperkuat kontribusi santri kepada masyarakat.

“Kita telah menjalin kerja sama dengan 25 Ma’had Aly di Jawa Tengah. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mempertemukan pendidikan keagamaan dengan kebutuhan pembangunan masyarakat, termasuk melalui kegiatan pengabdian yang dikenal dalam tradisi pesantren sebagai khidmat kepada masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah Daerah juga mendukung pendidikan pesantren sesuai karakteristik masing-masing lembaga. Pesantren salaf yang berfokus pada kajian kitab klasik tetap mendapatkan perhatian, sementara pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal didorong mengembangkan pembelajaran berbasis digital.

 

Menurut Taj Yasin, modernisasi pendidikan harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan tradisi pesantren, akhlak, dan nilai-nilai keagamaan. “Jangan pernah minder dan kecil hati menjadi santri,” ujarnya.

Taj Yasin mengatakan, Pemprov Jateng berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama untuk memetakan pesantren, termasuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan dan perundungan.

Taj Yasin menegaskan pentingnya koordinasi antara pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat agar persoalan di lingkungan pesantren dapat diketahui serta ditangani lebih dini.

“Pemprov Jateng telah memiliki peraturan daerah tentang pesantren yang diselesaikan pada 2023 dan ditindaklanjuti melalui peraturan gubernur,” pungkasnya.

Momentum Hari Santri 2026 pun menjadi pengingat bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 membutuhkan santri yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga memiliki kompetensi, kemandirian, serta kemampuan berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement