JAKARTA - Insiden penembakan yang dilakukan aparat polisi kepada salah seorang demonstran dalam unjuk rasa penolakan harga BBM di DPR beberapa waktu lalu telah menodai reformasi yang sedang dilakukan internal kepolisian. Sebab, peristiwa penembakan ini bukan hanya kali pertama terjadi.
"Ini berulang terus, kalau kami menyayangkan sekali penembakan yang dilakukan oleh polisi. Tindakan ini telah menodai reformasi yang tengah dilakukan di dalam internal kepolisian," ujar Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Asfinawati saat dihubungi okezone, Jumat (23/5/2008).
Asfin mengatakan, meski pengakuan dari pihak polri para aparatnya telah diberikan pembekalan dalam setiap penanganan demonstrasi, namun menurutnya pembekalan tersebut tidak mengikuti standar internasional.
"Misalnya, bagaimana cara penggunaan senjata dalam penanganan demonstrasi itu masih tidak sesuai dengan standar internasional. Kapolri harus instruksikan itu," tegasnya.
Asfin juga ingin, agar kasus penembakan ini segera diusut, bukan saja pengusutan untuk pelakunya melainkan hingga sampai jalur komandonya.
"Harus segera diusut, bukan hanya pelakunya, tapi juga jalur komandonya. Siapa yang ada di balik itu," tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) angkatan 2007 Budi Darma diduga tertembak peluru karet di dada kiri dari arah pintu utama Gedung DPR, ketika berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM.
(Hariyanto Kurniawan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.