getting time...

NEWS » News

Ratusan Warga Pekalongan Makan Nasi Aking

Senin, 14 Juli 2008 16:59 wib

PEKALONGAN - Ratusan warga Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan, Jawa Tengah, terpaksa mengonsumsi nasi aking (nasi sisa yang dimaksak kembali) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu disebabkan ratusan hektare sawah produktif, rusak dan mati karena tergenang pasang air dari laut (rob). Akibatnya panen raya yang diharapkan datang pada akhir musim ini gagal.

Seorang warga Pekalongan Utara, Kohirin, Senin (14/7/2008), menceritakan, warga memakan nasi aking karena terpaksa. Sejak areal persawahan mereka tergenang rob, tidak bisa lagi ditanami padi. Awalnya tanah tersebut sangat produktif, namun saat ini jika ditanami apapun, pasti mati. Kesuburan tanah semakin terkurangi, karena rob yang menggenangi persawahan sejak setahun terakhir, belum juga surut. Bahkan, jika musim hujan genangan rob bertambah tinggi. ''Luas sawah yang tergenang rob, mencapai sekira ratusan hektare milik beberapa petani,'' ujarnya.

Akibat kejadian itu, banyak petani yang menjadi kecewa. Mereka yang tetap menanam tanaman, tidak bisa memanen hasilnya. Karena tanaman mengering, dan kemudian mati akibat tergengang rob. Menurut Kohirin yang mempunyai satu hektare sawah, ratusan petani akhirnya terpaksa memakan nasi aking karena gagal panen. Mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya, karena selama ini andalan penghasilan adalah dari bercocok tanam. Jika tidak mau makan nasi aking, kebutuhan sehari-harinya lain seperti ongkos menyekolahkan anak tidak akan terpenuhi.

Nur Fadilah, ibu rumah tangga di Kelurahan Bandengan Pekalongan Utara, mengaku sudah hampir setahun ini selalu memasak nasi aking. Hal ini terpaksa dilakukan karena tidak memiliki uang untuk membeli beras. Memasak nasi aking dibutuhkan proses pengolahan yang lebih lama. Pertama nasi sisa dijemur hingga kering, kemudian ditanak kembali. Rasa kenikmatannya pun, jika dimakan, sudah sangat berkurang. ''Rasanya hambar, tak berasa,'' ucapnya.

Sebagai orangtua, dia mengaku sebenarnya tidak sampai hati memberi makan nasi aking sehari-hari untuk anak-anaknya. Tapi sejak tanaman padinya tidak dapat panen, tidak ada sumber penghasilan lagi untuk menghidupi keluarga.
(M Masrukhin Abduh/Sindo/mbs)