SURABAYA - Kasus diare dan muntaber di Kota Surabaya semakin parah. Dari hari ke hari, jumlah penderita diare dan muntaber terutama yang dialami oleh balita dan anak-anak terus bertambah.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soewandhie yang menjadi rujukan pertama penanganan diare dan muntaber di wilayah Kota Surabaya mulai kewalahan menangani pasien yang masuk.
Hal ini disebabkan ruangan yang tersedia untuk menangani pasien terbatas. Terpaksa, banyak pasien diare dan muntaber menjalani perawatan di lorong atau di luar ruangan.
Pantauan di lapangan, Selasa (9/12/2008), sedikitnya ada lima pasien diare yang terpaksa dirawat di lorong. Pasien yang notabene balita dan anak-anak ini tidur di sebuah tempat tidur dorong dan berjajar dekat dengan tembok.
Sebagian di antara pasien diare ini terlihat masih tergolek lemah, dan terus diberi infus. Tentu saja, karena berada di luar ruangan, mereka tak bisa nyenyak tidur dan nyaman beristirahat. Suara bising dan bau tak sedap dari salah satu kamar mandi di lantai dua rumah sakit tersebut mencocok hidung.
"Kami datang sudah tak kebagian tempat tidur, akhirnya anak saya terpaksa dirawat di luar ruangan seperti ini. Tapi perawatan seperti sungguh tak enak, karena anak saya sering menangis dan sulit tidur," ungkap Pitono (38) saat menemani anaknya, Putri Aulia (1,8) di lorong, RSUD dr Soewandhie.
Kepala Bidang Pengembangan dan Informasi RSUD dr Soewandhie, Indriyati, mengungkapkan, sejak sepekan terakhir pasien diare dan muntaber yang masuk ke rumah sakit sudah melebihi kapasitas (overload).
"Memang ada yang terpaksa menjalani perawatan di luar ruangan. Meski begitu, perlakuan dan perawatan yang diberikan kepada mereka sama dengan pasien yang berada di dalam ruangan," ujarnya.
(Kemas Irawan Nurrachman)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.