KUPANG - Mantan Panglima Milisi Timtim pro-Indonesia, Joao Da Silva Tavares meninggal dunia di lokasi pengungsian, Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Tokoh kharismatik yang tetap setia dengan Indonesia itu meninggal dunia dalam usia 78 tahun, akibat penyakit stroke yang dideritanya selama satu tahun terakhir.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Tavares sempat merindukan bertemu dengan Prabowo Subianto, mantan Danjen Kopassus yang kini mencalonkan diri menjadi cawapres Megawati Soekarnoputeri. Namun kerinduannya tak sampai, karena ajal menjemputnya, Senin, 8 Juni tengah malam di RS Sito Husada Atambua.
Tavares, dikenal luas masyarakat Timtim sebagai sosok yang tetap teguh pada pendirian. Hal ini dia buktikan, dengan keputusannya untuk tetap berada di tengah-tengah eks warga Timtim di kamp-kamp pengungsi. Dia pernah ditawari pemerintah untuk menetap di sebuah vila mewah di Bogor, Jawa Barat, namun Tavares memilih kembali ke Atambua dan hidup berbaur dengan para mantan milisi maupun ribuan eks warga Timtim lainnya.
Pada saat Timtim masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia, Tavares, dipercaya masyarakat Kabupaten Bobonaro, menjadi bupati selama 13 tahun (1976-1989). Dan pada waktu Presiden Habibie, menawarkan opsi kepada masarakat Timtim untuk merdeka atau bergabung dengan Indonesia. Tavares, yang juga mantan pejuang Timtim tahun 1974, tetap memilih untuk berjuang dengan ikut mendirikan milisi pro integrasi (Indonesia).
Dia kemudian didaulat menjadi panglima tertinggi milisi Indonesia, yang membawahi sedikitnya 10 sayap milisi yang tersebar di 18 sektor seperti milisi Aitarak, Besi Merah Putih, Mahidi (Mati Hidup dengan Indonesia), Laksaur, Saka, Sera, dan lainnya.
Selepas jajak pendapat Timtim pada 1999, Tavares bersama pasukannya serta sekira 100.000 warga Timtim prointegrasi mengungsi ke Timor barat, NTT dan menempati kamp-kamp pegungsi.
Putra almarhum, Arnaldo Da Silva Tavares, yang dihubungi pada Rabu (10/6/2009) mengatakan, ayahnya adalah sosok yang selalu dekat dengan rakyat dan selalu mengedepankan perdamaian. Ribuan warga eks Timtim, dari seluruh Timor Barat, NTT terus memadati kediaman Tavares untuk memberikan penghormatan terakhir.
Menurut Mantan Wakil Panglima Milisi Integrasi, Eurico Guterres, Tavares merupakan simbol perjuangan yang harus dihargai sebagai seorang pahlawan nasional. Sementara mantan Ketua DPRD Timtim, Armindo Mariano Soares, mengatakan, Tavares adalah sosok nasionalisme sejati. "Dia sangat mencintai Merah Putih. Dia adalah pejuang integrasi Timtim," pungkasnya.
(ful)