BALIKPAPAN - Malang nasib Tedy Apriansyah (6). Dia diduga menderita penyakit Hiperkeratosis (penebalan kulit pada kuku). Penyakit yang baru pertama ditemukan di Indonesia itu sudah diderita Tedy sejak berusia satu tahun.
Sumarno (55) dan Mardiati (54), orangtua Tedy mengaku, bahwa mereka selama ini tidak pernah memeriksakan penyakit aneh yang diderita anaknya itu. Baru setelah usia anaknya menginjak enam tahun, Tedy dirawat di rumah sakit.
Saat berumur satu tahun, menurut transmigran asal Sukoharjo, Jawa Tengah, yang ditempatkan di desa SP I Suliliran, Kecamatan Paser Blengkong, Kabupaten Paser, Kaltim itu, Tedy memang sempat diperiksakan ke dokter.
Tedy, kata Sumarno, menderita gatal-gatal, mimisan dan sariawan namun setelah itu tumbuh penyakit aneh. "Saat itu masih di Sukoharjo dia sempat dibawa ke klinik tapi enggak tahu hasilnya, dan baru sekarang dirawat," kata Sumarno di RSKD Balikpapan, Kamis (3/12/2009).
Tedy diduga menderita penyakit Hiperkeratosis (penebalan kulit dikuku yang tidak normal). Seluruh kuku tangan dan kaki ditumbuhi oleh kulit yang menebal. Bahkan di bagian pantat dan telapak kaki juga dipenuhi kulit tebal. Penyakit ini pun terus menjalar di organ kaki dan tangan sejak saat itu.
"Kukunya pernah lepas tapi setelah itu tumbuh lagi bahkan makin banyak kulit menebal itu memenuhi sekitar kukunya," tambah Sumarno.
Di hubungan terpisah, Direktur RS Kanudjoso Djatiwibowo (RSKD) dr Safak Hanung mengatakan, Tedy mulai mennjalani rawat inap di RSKD sejak senin 30 November lalu. Tedy, menurut Hanung, mendapatkan perawatan dan pembebasan biaya rumah sakit, berkat kebijakan Pemkab Paser yang meminta agar masalah Tedy dituntaskan secara serius.
"Kita mendapatkan pasien Tedy itu dari RS di paser yang membawa Tedy ke sini (Balikpapan). Semua biaya ditanggung Pemda," ujar Hanung di Kantornya.
Jenis penyakit yang diderita Tedy, lanjut Hanung, sangat langka dan belum bisa didiagnosa apakah disebabkan infeksi virus atau factor gen. "Pemeriksaan medis untuk Tedy banyak sekali bahkan kalau sampai dilakukan pemeriksaan kromosom biayanya saja bisa Rp25 juta sehingga ini harus dikomunikasikan perkembangan kepada Pemkab Paser," pungkasnya.
(ded)