Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Inilah Respons terhadap Pernyataan SBY

Koran SI , Jurnalis-Senin, 07 Desember 2009 |06:04 WIB
Inilah Respons terhadap Pernyataan SBY
A
A
A

JAKARTA - Sinyalemen Presiden SBY soal adanya pihak-pihak yang ingin menjatuhkannya mendapat respons dari sejumlah kalangan yang mendukung aksi 9 Desember.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyatakan SBY tidak perlu mencemaskan hal itu. Dia juga meminta mantan Kepala Staf Teritorial TNI itu tidak terlalu mengemukakan temuan intelijen. "Saya akan mendukung demo 9 Desember, sebab tokoh lintas agama menilai masalah korupsi merupakan penyakit bangsa yang harus diberantas," katanya.

Meski demikian, dia memberi konfirmasi tidak akan turun langsung ke lapangan karena harus ke Manado untuk memenuhi undangan Munas PMII. Adapun aktivis GIB Adhie Massardi menilai pernyataan presiden terlalu berlebihan.

Demonstrasi yang merupakan protes sosial dalam perayaan Hari Antikorupsi Sedunia seharusnya dimeriahkan pemerintah jika memang ingin memberantas korupsi. "Tudingan gerakan sosial bermotif politis menjatuhkan kekuasaan itu mereduksi makna kritik dan otonomi partisipatif masyarakat. Seolah cuma urusan kekuasaan. Sebagai pemerintahan yang didukung mayoritas partai, kecemasan itu aneh," ujarnya.

Sayap pemuda ormas lintas agama yang tergabung dalam Dewan Muda Lintas Agama (DMLA) menyatakan akan turut bergabung dalam aksi besar 9 Desember mendatang. "Kita akan ikut bergabung sebagai bentuk solidaritas.Apalagi para tokoh dan pemuka agama juga akan ikut,"tegas aktivis DMLA Idy Muzayad.

DMLA menilai SBY terlalu berlebihan dan curiga dalam menyikapi rencana unjuk rasa ini.Padahal dalam alam demokrasi, unjuk rasa apalagi menuntut transparansi kehidupan berbangsa dan bernegara, merupakan hal yang lumrah. Idy mengakui implikasi politik itu pasti ada, tetapi SBY tidak perlu khawatir dan merasa fobia. "Karena para tokoh dan aktivis serta simpatisan yang hadir tentu punya kearifan demi kebaikan Indonesia,"tandasnya.

Sementara itu, mantan Ketua DPR Akbar Tanjung menilai pernyataan Presiden SBY tentang adanya pihak yang ingin menjatuhkan diri dan partainya merupakan hal biasa dalam politik. "Dalam politik, kalau ada yang tidak suka dengan Golkar, PDIP, begitu juga dengan Demokrat, itu hal biasa," ujar Akbar kepada harian Seputar Indonesia (SI) di Jakarta kemarin.

Menurut Akbar, yang terpenting saat ini ialah menghormati langkah DPR melalui Panitia Khusus (Pansus) Angket untuk menjalankan fungsinya guna mengetahui sejauh mana dugaan adanya penyelewengan dalam kasus Bank Century.

Dia percaya pembentukan Pansus Angket Century bukan untuk menjatuhkan siapa pun,termasuk Presiden. "Toh Demokrat juga ada dalam Pansus,"tandas politikus senior di Partai Golkar itu. Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Bima Arya Sugianto berpendapat, SBY mengeluarkan pernyataan itu karena mengetahui adanya pihak-pihak yang ingin menjatuhkannya.

"SBY mungkin sedang memberikan sinyal kepada pihak-pihak yang ingin menjatuhkannya untuk hati hati,"ujarnya. Bima mengistilahkan pihak-pihak yang ingin menjatuhkan SBY menjadi penumpang gelap yang mengambil kesempatan dalam berbagai kasus seperti perseteruan Polri-KPK dan Bank Century.

(Dadan Muhammad Ramdan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement