getting time...

Penggrebekan Pamulang, Buka Ingatan Warga Solo Akan Tewasnya Noordin

Jum'at, 12 Maret 2010 05:10 wib
Ilustrasi.(foto:dok SI)
Ilustrasi.(foto:dok SI)

SOLO - Drama penyergapan teroris di Pamulang membuka kembali memori warga Kampung Kepuhsari RT 03/XI, Mojosongo, Solo. Di kampung inilah tim Detasemen Khusus (densus) 88/Antiteror, Kamis 17 September 2009 menggrebek sebuah rumah yang menjadi tempat persembunyian gembong teroris Noordin M Top.
 
Seorang warga yang tinggal persis di sebelah rumah tersebut, Widodo menuturkan, penggrebekan teroris kala itu membuat suasana di kampungnya mencekam, apalagi saat itu ia tengah sakit dan berada di dalam rumah. Tempat tinggalnya berjarak beberapa meter saja dari lokasi sasaran tim Densus.
 
"Ia pun dengan runtut bercerita tentang bagaimana mencekamnya suasana pada saat terjadi penggrebekan. Suara letusan tembakan dan dentuman bom masih teringat sangat jelas di kepalanya. Dor..dor..dor. Suaranya keras sekali, telinga saya serasa tidak kuat," urainya, Kamis (11/3/2010).
 
Sesaat kemudian, lanjut dia, ia dibopong oleh salah seorang anggota Densus ke lokasi yang lebih aman."Saya masih ingat itu. Temboknya jebol, sedangkan atap rumah saya pada pecah. Tapi kemudian saya mendapat ganti rugi Rp25 juta," bebernya.
 
Kini, hampir setengah tahun kejadian yang menewaskan Noordin M Top, Urwah alias Bagus Budi Pranoto, Ario Sudarso alias Aji, dan Hadi Susilo itu berlalu, beragam ketakutan yang sempat menghampiri diakuinya mulai hilang. Tapi, bukan berarti kenangan menyeramkan itu ikut terlupakan.
 
Apalagi ketika ia menyaksikan berita mengenai penggrebekan teroris di Aceh Besar, Nangroe Adeh Darussalam (NAD) dan Pamulang. Iya, kemarin malah ada lagi seperti di Aceh, ujarnya.

(Fefy Dwi Haryanto/Koran SI/fit)