JAKARTA - Bahasa Indonesia perlu mendapat perhatian khusus dalam hal pelestariannya. Jika tidak, dikhawatirkan masyarakat Indonesia semakin terbawa arus westernisasi atau budaya kebarat-baratan.
Hal ini sangat disadari oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Kementerian Pendidikan Nasional. Menurut Yeyen Maryani, Sekretaris BPPB Kemendiknas, lembaganya melakukan banyak program untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa Indonesia.
Salah satunya, program pengkajian yaitu pengembangan kosakata. Dia menambahkan, tujuan pengembangan kosakata ini untuk mengurangi penggunaan istilah asing di masyarakat. Sehingga, jika sudah ditemukan padanan kata tersebut ke dalam bahasa Indonesia, maka penggunaan istilah asing akan sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.
Selain itu, juga dilakukan perlindungan kepada bahasa agar tidak punah, baik itu bahasa daerah maupun bahasa nasional itu sendiri (bahasa Indonesia). Yeyen menjelaskan, bentuk perlindungan dapat berupa kajian melalui dokumentasi atau revitalisasi. “Kita wajib melindungi supaya bahasa itu tidak hilang,” ungkapnya.
Program lainnya, lanjut Yeyen, adalah program pembinaan yang lebih terkait pada pengguna dan penggunaan. Salah satunya membina bahasa Indonesia supaya tetap berkembang dan bercita-cita menjadi bahasa dunia.
“Bahasa Indonesia itu harus dibina khususnya penuturnya, bagaimana menyadarkan orang, meningkatkan sikap positif orang agar cinta pada bahasa Indonesia, sehingga dalam bekomunikasi lebih senang menggunakan bahasa Indonesia,” imbuh Yeyen.
Hal serupa juga dilakukan di luar negeri terhadap bahasa Indonesia, karena sudah lebih dari 159 pusat kajian bahasa Indonesia di negara-negara lain itu. Hal ini diharapkan supaya secara bertahap dan berkelanjutan penggunaan bahasa Indonesia di luar negeri terus meningkat.
Yeyen mencontohkan kata produksi, yang berasal dari bahasa Inggris yaitu production, karena tidak ada konsep produksi dalam bahasa daerah maka diambil kata produksi dengan penyesuaian ejaan tanpa menggunakan kata ion diakhir kata.
Contoh lain, kata snack atau makanan kecil, sebetulnya menurut dia, ada padanan lain dalam bahasa Indonesia untuk kata snack yakni kudapan, namun kata kudapan tidak dikenal di masyarakat.
Beda pendapat dengan Yeyen, ahli Bahasa dan Sastra, Maman Soetarman Mahayana mengusulkan tiga hal untuk melstarikan bahasa Indonesia pada kalangan generasi muda.
”Pertama, ubah pandangan bahwa bahasa Indonesia tidak penting sebagai bahasa negara. Kedua, meningkatkan lomba-lomba pidato bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, itu harus terus-menerus. Contohnya, di KBRI Seoul itu tiap tahun diadakan lomba pidato bahasa Indonesia khusus untuk warga Korea dan itu banyak peminatnya. Ini berarti pihak KBRI ingin menyebarkan pengaruh budaya kepada orang luar. Ketiga, kebiasaan mengekspresikan bahasa Indonesia dalam tulisan, selama ini banyak beranggapan bahasa Indonesia itu mudah, padahal tidak juga, khususnya dalam bahasa tulis,” ungkap Maman kepada okezone.
(Lusi Catur Mahgriefie)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.