tragedi sukhoi

Menhan: Twitter Bisa Jadi Ancaman Nonmiliter

Insaf Albert Tarigan - Okezone
Kamis, 27 Januari 2011 17:25 wib
Purnomo Yusgiantoro (Foto: Reuters)
Purnomo Yusgiantoro (Foto: Reuters)

JAKARTA - Ancaman terbesar terhadap keamanan dan pertahanan suatu negara termasuk Indonesia di masa depan bukanlah ancaman agresi militer dari suatu negara.
 
Tetapi justru dari ancaman non-militer seperti cyber crime termasuk dengan memanfaatkan sarana jejaring sosial seperti Twitter dan pandemi virus mematikan. Aktor-aktor yang mengancam juga bukan lagi negara tapi cenderung non-state actor baik perorangan maupun organisasi.
 
Demikian dikatakan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat ditanya mengenai perkembangan teknologi internet dan kaitannya dengan informasi-informasi intelijen suatu negara.
 
"Kalau kita lihat jenis ancaman, ancaman itu ada ancaman militer ada ancaman nonmiliter, sekarang itu justru ancaman terbesar kita ke depan non militer. Nonmiliter itu twitter, cyber crime dan sebagainya itu. kemudian lewat pandemi (penyakit) macem-macem kalau non militer itu. Kedua, yang melakukan bukan negara, kadang-kadang perseorangan bisa, organisasi bisa. Ketiga, aktornya itu dia bisa dari dalam bukan hanya dari luar," ujarnya kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/1/2011).
 
Purnomo mengatakan, situasi politik dunia saat ini sudah berubah seiring dengan berakhirnya perang dingin. Pada masa perang dingin, masing-masing negara mengembangkan sistem pertahanan dan keamanan dengan asumsi serangan datang dari negara lain.
 
"Sekarang sudah macem-macem bisa lewat nonmiliter lewat tadi bisa juga dilakukan organisasi. Kita mesti waspadai," katanya.
 
Guna mengantisipasi ancaman itu, kata Purnomo, Kementerian Pertahanan dan juga TNI tidak bisa bekerja sendiri. Dalam hal cyber crime misalnya, bisa diantisipai oleh institusi yang berkaitan. Adapun fungsi Kemenhan dan TNI sebagamana diatur undang-undang adalah mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
"Kalau pandemi misalnya virus mestinya penjurunya kementerian kesehatan, nah kalau informasi kan mestinya ada penjurunya masing-masing tidak semua Kementerian Pertahanan. Twitter, cyber crime itu ada porsinya," katanya.

(lam)