TKW di Taiwan Dipaksa Layani 10 Laki-Laki

|

Ilustrasi (javno)

TKW di Taiwan Dipaksa Layani 10 Laki-Laki

SURABAYA- Satu lagi cerita pilu dikisahkan seorang tenaga kerja wanita (TKW). Sarah, bukan nama sebenarnya, perempuan asal Tulungagung, Jawa Timur, menjadi korban rudapaksa (pemerkosaan) di Taiwan.

Sarah yang baru bekerja setahun di Taiwan, dipaksa majikannya untuk melayani 10 laki-laki.

Selama bekerja di Kota Hsincu, tidak ada masalah yang dia hadapi. Namun setelah dipindah majikan dan agennya ke Hualien, masalah mulai muncul. Di kota itu, Sarah dijual oleh agen ke seorang majikan. Korban disuruh menandatangai kontrak kerja yang bahasanya sama sekali tidak dia pahami.

“Di majikan barunya di Hualien ini dia dipaksa untuk melayani laki-laki. Laporan Sarah ke Kemenakertrans, dia sudah dipaksa melayani enam laki-laki,” kata Direktur Program Migrant Institute Ali Yasin kepada okezone, Jumat (1/7/2011).

Saat diajak berdialog oleh relawan Migrant Institute, Sarah mengaku juga melayani empat laki-laki lainnya. Empat laki-laki tersebut merupakan majikan baru lainnya di Hualien.

“Hingga kini kami belum mendapatkan informasi berapa kali Sarah pindah majikan,” sambung Ali.

Di rumah majikan baru itu, Sarah dirudapaksa oleh empat orang di ruang tamu, termasuk di antaranya menantu sang majikan. Bahkan menantu itu sempat merekam kejadian itu.

“Dari hasil visum dokter didapati bahwa alat kelamin Sarah rusak. Setiap kali mencoba menceritakan kasusnya, Sarah selalu pingsan,” sambung Ali.

Ali menambahkan, kasus ini membuktikan bahwa kisah yang dialami TKI di negara-negara Asia Timur tidak kalah memilukan dibanding dengan negara-negara Timur Tengah.

Negara tujuan TKI seperti Hong Kong, Taiwan, dan Macau pun berisiko bagi TKI. “Migrant Institute masih memberikan pendampingan untuk Sarah,” tutup Ali.

Seperti diberitakan Migrant Institute siang tadi mengirimkan dua buku untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Buku berjudul Surat Berdarah untuk Presiden dan Kepada Yth Bapak Presiden itu diserahkan melalui Gubernur Jatim.

Dua buku tersebut berisi kisah dan curahan hati 30 TKI yang bekerja di Hong Kong, Taiwan, dan Macau. Diharapkan, dengan buku tersebut Pemerintah lebih memperhatikan nasib para TKI di negara-negara Asia Timur.

(ton)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Mayat dalam Bak Mandi Korban Pembunuhan