PROBOLINGGO - Kekayaan alam dan budaya nusantara memang sungguh luar biasa. Salah satunya adalah ritual tas-tas yang dilestarikan Suku Tengger di Lereng Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.
Ritual ini bertujuan untuk mengundang arwah leluhur yang sudah meninggal dunia dan biasanya digelar bersamaan dengan acara hajatan seperti pernikahan atau khitanan.
Seperti yang dilakukan warga Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Dalam pesta hajatan pernikahan anaknya, sejumlah boneka dipajang, jumlahnya sesuai dengan jumlah leluhur yang telah meninggal dunia.
Hal ini dilakukan dengan harapan, meski kerabat mereka sudah tiada, tapi tetap bisa merasakan dan mencicipi aneka masakan dipesta hajatan yang digelar. Prosesi ritual tas-tas biasanya dipimpin oleh seorang dukun pandito.
Sebelum ritual dimulai, sang pandito membacakan mantra agar leluhur yang diumpakan dengan bentuk boneka bisa datang ke acara hajatan familinya di dunia. “Ritual ini untuk mengundang arwah,” ujar Mujono, salah seorang pandito Suku Tengger, Minggu (21/8/2011).
Boneka yang dipajang terbuat dari tunas pohon pisang yang di balut dengan penutup kepala dari kain atau udeng. Bagi arwah berjenis kelamin laki-laki, ujung tunas pisang dibiarkan menjulang.
Setelah sesi pembacaan mantra mendatangkan roh leluhur dilakukan, maka aneka sajian seperti kue, makanan, dan minuman disajikan agar bisa dinikmati oleh roh leluhur juga. Di samping deretan boneka, tampak kerabat dan warga sekitar ikut menyantap makanan yang disajikan.
Ritual warisan turun temurun warga Tengger ini menggambarkan bahwa manusia di dunia harus hidup rukun dan bersama meski yang sudah tiada. Sebab meski jasad sudah tiada, namun rohnya tetap bisa merasakan.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.