MEDAN - Dalam sebulan terakhir, dua kapal nelayan berukuran masing-masing 80 GT karam di perairan Pulau Berhala, Kabupaten Serdang Berdagai, Sumatera Utara. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Insiden pertama terjadi pada 9 Desember. Selang sepekan kemudian sekira 16 Desember insiden kedua terjadi.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Medan, Zulfahri Siagian mengatakan karamnya dua kapal dipicu gelombang tinggi mencapai tujuh sampai 10 meter di kawasan tersebut.
"Beruntung tidak ada korban jiwa, karena kapal lain yang mendapat kabar langsung menuju lokasi dan mengevakuasi belasan awak kapal di sana," ujar Fahri saat ditemui di Desa Sundari, Belawan, Sumatera Utara, Jumat (23/12/2011).
Dia mengatakan, peristiwa nahas itu tidak terjadi secara bersamaan. Namun lokasinya tidak begitu berjauhan. "Jadi pas ombak tinggi, kapal enggak sempat menepi di pulau terdekat," tambahnya.
Akibat ombak tinggi yang menurutnya sekarang susah dipredikisi, nelayan tidak berani melaut sampai ke kawasan yang jauh dari tepi pantai.
"Melaut si tetap, tapi tidak jauh dari bibir pantai bagi kapal-kapal kecil itu. Karena sekarang pun susah diprediksi ombak tinggi ini," keluhnya.
Sementara, dua bangkai kapal kini masih dalam proses pemindahan kapal. "Tim sudah diturunkan untuk melakukan pemindahan bangkai kapal," ujarnya.
Berdasarkan data yang dimilikinya, ada sekira 19 ribu nelayan di bawah naungan HNSI Medan dengan jumlah kapal mencapai 2.000 unit. "Kalau kapal besar mencapai 556 kapal sementara kapal nelayan kecil-kecil itu mencapai 1.400-an kapal," tandasnya.
(kem)