tragedi sukhoi

"Setop Pengiriman TKI PLRT ke Timur Tengah"

Muhammad Saifullah - Okezone
Selasa, 10 Januari 2012 11:28 wib
Ilustrasi (Foto: Dok Koran SI)
Ilustrasi (Foto: Dok Koran SI)

JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Herlini Amran mendesak pemerintah segera menghentikan pengiriman TKI Penata Laksana Rumah Tangga
(PLRT) ke negara-negara Arab.
 
Sebab saat ini pemerintah masih dalam posisi melakukan moratorim pengiriman TKI ke negara-negara lain termasuk negara Timur Tengah. "Kami meminta pemerintah segera menghentikan pengiriman TKI ke Timur Tengah, yang dihentikan adalah pengiriman TKI sektor PLRT saja, TKI yang bekerja di luar sekor PLRT tidak menjadi masalah," ujarnya dalam siaran pers kepada okezone di Jakarta, Selasa (10/1/2012).
 
Dia menambahkan, sudah banyak TKI menjadi korban kekerasan terutama di negara-negara Timur tengah. Seperti kasus meninggalnya TKI asal Subang di Yordania, Tarlem binti Unus Tajeum. “Akan makin banyak Tarlem-Tarlem lain jika pemerintah tidak segera menghentikan pengiriman TKI ke negara-negara Arab," serunya.
 
Penghentian sementara pengiriman TKI PLRT, menurut Herlini, diperlukan karena sampai saat ini negara-negara Timur Tengah belum menyepakati MoU antar negara mengenai TKI. Seperti syarat-syarat libur sehari dalam sepekan, paspor dipegang oleh pekerja, gaji minimum, dan penggajian melalui transfer perbankan, serta dibentuknya gugus tugas.
 
"Pemerintah harus tegas, jangan hanya pragmatis memikirkan devisa negara yang diperoleh dari subsektor ini. Keberpihakan dan kepedulian kepada para WNI memang harus lebih di pentingkan karena merupakan salah satu dari tugas pemerintah adalah melindungi rakyatnya ketimbang sisi pragmatis semata," ujar Herlini.
 
Dari Data Balai Pelayanan Kepulangan Tenaga Kerja Indonesia (BPKTKI) sepanjang 2011 terdapat 264.263 TKI yang pulang dari kawasan Timur Tengah di mana Arab Saudi menempati posisi teratas dalam kasus TKI bermasalah.
 
Dari jumlah kedatangan TKI dari Arab Saudi sebanyak 171.083 orang, terdapat TKI yang pulang habis kontrak sebanyak 136.678 (80 persen), cuti 15.328 (9 persen), dan bermasalah 19.077 (11 persen).

(ful)

  • sandika » 0 Tanggapan
    kami sangat setuju jika pemberhentian pengiriman tki terutama tkw ke timur tengah lebih lebih kesaudy arabya,,dan seharusx pemerintah harus bijak untuk bisa menangani mengurus tki,kasus kasus yg sedang trjadi ato yg sudah sedang trjadi,,karna kami sebagai tkw disaudy banyak terzalimi majikan,,bahkan ada diantara kami yg tidak digaji hingga kbur juga bhkan ada yg dipukuli,,indoesia masak bisa kalah dgan pilipina yg hanya mengirim pekerja yg terampil saja,,bekerja dirumah sakit,sementara tki haxa dapat nasip burukx saja,tidak sedikit kasus pemerkosaan,penganiayaan yg tidak sampe kpda negara,,tidak sedikit pembunuhan secara diam diam,,
    Beri Tanggapan Laporkan
  • mama Azzy » 0 Tanggapan
    memang banyak sekali terjadi penganiayaan terhadap TKI di Saudi Arabia tapi tak kurang juga yg merasa beruntung kerja di KSA misal nya yg kerja di salon ,ga semua kesalahan ada di pihak majikan dan jg sebalik nya ,ya memang masalah ada pd kurang tegas nya TKI dalam menuntut hak nya sendiri itu sebab paling tepat
    Beri Tanggapan Laporkan
  • arie » 1 Tanggapan
    Boleh saja dihentikan pengiriman TKI .PLRT ke negara timur tengah Tapi tolong pikirkan kami juga Ribuan karyawan PPTKIS Mau mencari kerja kemana kami, sedangkan mencari lowongan kerja di jakarta saja susah jangan selalu menyikapi yang buruk saja , masih banyak jutan ex TKI timur tengah yang sukses. apabila memang ingin menutup selamanya tolong berikan kami pekerjaan, bagi para karyawan PPTKIS ...
    • mashuria
      banyak jalan mencari rezeki knp hrs putus asa.....asal ada niat pasti ada jalan. kita harus bersikap bijaksana jgn mementingkan mencari untung semata,satu tki bermasalah berarti lebih dari 5 anggota kluarga yang bersedih,bayangkan jk 10.000 TKI yg bermasalh berapa banyak orang / anggota kluarga yg bersedih....
    Beri Tanggapan Laporkan
  • bpk-e-ifa » 0 Tanggapan
    Betul aku sangat setuju sekali kalau TKW dihentikan smntara atau bahkan ditutup sm sekali ke tim-teng khususnya saudi.sdh waktunya kt mengirim tenaga kerja yg terampil dan berpendidikan,bkn mengirm tenaga pembantu yg cm jd ejekan negara lain.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.