Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mendukung Lalu Menikam, Ruhut Mirip Harmoko

TB Ardi Januar , Jurnalis-Jum'at, 03 Februari 2012 |13:50 WIB
Mendukung Lalu Menikam, Ruhut Mirip Harmoko
Dokumentasi Okezone
A
A
A

JAKARTA - Politikus Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, kembali menjadi sorotan media karena komentarnya yang kontroversial. Kali ini, secara tiba-tiba mantan pengacara kondang ini meminta ketua partainya, Anas Urbaningrum, untuk mengundurkan diri.
 
Pernyataan Anggota Komisi III DPR ini sontak saja membuat banyak pihak terkejut. Betapa tidak, selama ini Ruhut dikenal sebagai loyalis Anas. Hampir setiap isu negatif yang menerpa Anas dan Partai Demokrat, Ruhut selalu menjadi benteng terdepan dalam membela.
 
Saat Kongres Partai Demokrat di Bandung, Ruhut menjadi salah satu pihak yang gencar mendukung Anas Urbaningrum untuk menjadi ketua menggantikan Hadi Utomo. Hasilnya tak sia-sia, Anas berhasil maju mengalahkan dua kompetitornya yakni Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng.
 
Lain dulu lain sekarang. Dengan dalih untuk menyelamatkan citra partai, pria yang kerap disapa Poltak ini meminta Anas untuk mundur karena namanya kerap disebut-sebut dalam sidang kasus Wisma Atlet dengan terdakwa M Nazaruddin.
 
Ruhut mengatakan, dirinya melakukan hal tersebut bukan untuk kabur dari kubu Anas Urbaningrum. Saat ditemui wartawan kemarin Ruhut mengatakan, “Aku ingin katakan awal sama Anas, saya bukan membelot, saya ring satu dia, serangan Nazar bertubi kok dia diam, di dunia dan Indonesia, diam itu iya."
 
Apa yang dilakukan Ruhut, mengingatkan kita kepada tokoh Orde Baru Harmoko. Mantan Menteri Penerangan ini dikenal sebagai tangan kanan Soeharto. Hampir setiap kesempatan berbicara di media massa, Harmoko selalu menyelipkan kata-kata “Atas petunjuk Bapak Presiden,”.
 
Harmoko juga disebut-sebut sebagai figur yang terus “mendesak” agar Soeharto tetap menjabat presiden. Alasan Harmoko, rakyat Indonesia masih mencintai dan membutuhkan Soeharto.
 
Namun pada Mei 1998, saat rakyat menuntut Soeharto untuk mundur karena dinilai telah lama berkuasa dan gagal mensejahterakan rakyat, Harmoko tidak melindungi Soeharto. Justru, Harmoko yang kala itu menjabat sebagai Ketua MPR malah mendesak agar Soeharto mengundurkan diri demi keselamatan bangsa.
 
Tak lama kemudian, Soeharto pun mundur dan digantikan BJ Habibie. Namun, rasa sakit hati Soeharto kepada Harmoko seperti terus melekat. Soeharto pun tak pernah mau menemui Harmoko hingga ajal menjemput.
 
Akankah hubungan Anas dengan Ruhut akan mirip seperti kisah Soeharto dan Harmoko?

(TB Ardi Januar)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement