Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Penyebab 'Panas-Dingin' Hubungan TNI-Polri

Stefanus Yugo Hindarto , Jurnalis-Senin, 23 April 2012 |07:19 WIB
Penyebab 'Panas-Dingin' Hubungan TNI-Polri
ilustrasi (Foto:Ist)
A
A
A

JAKARTA- Cerita mengenai bentrokan antara anggota TNI dengan Polri bukanlah hal yang baru. Hubungan kedua institusi tersebut kerap panas-dingin, terutama sejak Polri pisah dari TNI per 1 April 1999.

Untuk diketahui, Polri secara resmi berpisah dengan TNI sejak 1 April 1999. Namun, Polri tak secara langsung berdiri sendiri. Selama setahun, sejak 1999 hingga 2000 Polri dikelola Departemen Pertahanan (Dephan). Barulah sejak 1 Juli 2000, Polri resmi berpisah dari Dephan dan tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 89/2000 tertanggal 1 Juli 2000.

Sejak periode tersebut, hubungan TNI-Polri kerap panas-dingin. Anggota Polri-TNI di Lapangansering diberitakan terlibat bentrok. Terakhir, Anggota Brimob Polda Gorontalo dan Satuan Yonif 221 Kostrad terlibat bentrok, Minggu 22 April 2012.

Belum diketahui penyebab pasti bentrokan tersebut. TNI-Polri berencana untuk membentuk tim gabungan untuk menyelidiki kasus tersebut.

Namun, menurut pengamat Kepolisian, Bambang Widodo Umar, hubungan antara TNI-Polri memang agak sedikit berubah sejak pemisahan TNI-Polri dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia(ABRI). Apa penyebabnya?

Kata Bambang, faktor kecemburuan merupakan faktor penyebab panas-dinginnya hubungan TNI. “Sejak Polri dipisah, memang ada sedikit kecemburuan. Pasalnya, TNI hingga saat ini belum jelas. Misalkan, kata presiden, TNI bertugas mengamankan proyek-proyek vital namun, tidak dijelaskan secara rinci berapa jumlah personel yang menjaga, atau bagaimana tugasnya, itu belum jelas sampai sekarang,” kata Bambang kepada okezone, Minggu (22/4/2012).

Belum lagi, kata Bambang, saat ini polisi memegang peranan dalam keamanan dalam negeri, dan TNI memegang pertahanan. “Tapi, banyak tugas polisi yang tidak beres, seperti maraknya pungli. Polisi langsung bersentuhan dengan masyarakat, tapi TNI tidak. Belum lagi masalah kesejahteraan, TNI hanya mengandalkan gaji. Akibatnya terjadi kecemburuan,” katanya.

Seharusnya, kata Bambang, Polisi jangan bermewah-mewahan, hidup saja sedehana. Polisi harus membalikan citranya, sehingga tidak menimbulkan kesenjangan. “Persoalan bentrokan itu harus segera diatasi oleh masing-masing petinggi, baik TNI maupun Polri, agar ke depannya tidak terjadi hal serupa,” katanya.

(Stefanus Yugo Hindarto)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement