DENPASAR - Setelah dibujuk petugas, sebanyak 96 imigran asal Timur Tengah yang ditangkap di perairan selatan Bali akhirnya bersedia meninggalkan kapal yang mereka tumpangi.
Proses pemindahan para imigran berlangsung alot, namun berkat pendekatan persuasif petugas Polda dan Imigrasi akhirnya mereka bersedia meninggalkan kapal kayu tanpa bendera dan tanpa nama itu.
Dari pendataan sementara diketahui, jumlah imigran asal Timur Tengah itu sebanyak 96 orang. Kini mereka telah diinapkan di sebuah hotel di Jalan Tukad Barito, Renon, Denpasar.
"Sekarang penanganan kasusnya diambil alih tim people smuggling Polda Bali," kata Dirpol Air Polda Bali Kombes Pol Tubuh Musyareh, Senin (13/5/2013).
Di antara para imigran tersebut terdapat anak-anak dan kaum wanita yang kondisinya sangat memprihatinkan karena berada dalam palka kapal kayu yang sempit. Kapal tersebut dinahkodai Iskandar (32).
Dari pengakuan nahkoda, diketahui sudah ada di Denpasar selama sepekan dan rencananya akan berlayar ke Australia lewat Selat Badung, namun terburu ditangkap patroli Pol Air pada Minggu, 12 Mei sekira pukul 05.00 Wita.
Rencananya warga Iran, Suriah, dan Turki itu akan berlayar ke Australia dengan waktu tempuh sekira empat hari. "Kapalanya sangat tidak layak dan sangat membahayakan pelayaran, apalagi sampai ke Australia," tuturnya.
Awalnya hanya 21 imigran yang bersedia turun, namun setelah dibujuk akhirnya sampai malam hari baru seluruh imigran bersedia turun dari kapal.
"Mereka tidak mau turun ke darat, sebab tujuannya satu ingin pergi ke Australia untuk mencari suaka politik dan mencari kerja di sana," imbuh Tubuh.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.