MEDAN - Berbeda dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Utara (Sumut) yang tidak menganggap serius soal buku yang salah mengurutkan nama Nabi dalam ajaran islam. Pengamat pendidikan mendesak pihak yang berwenang untuk segera menarik buku tersebut karena telah meresahkan masyarakat.
Pengamat pendidikan, Musyuhito Solin mengatakan sebelum buku diterima siswa, harusnya buku terebut terlebih dahulu harus diseleksi. Buku yang diterima siswa juga harus ada izin dari Menteri atau Gubernur.
"Ada buku kurkulium sesuai peraturan. Jadi sekolah tidak boleh suka hati menggunakan buku yang tidak diseleksi," jelas Musyuhito yang juga dosen di Universitas Negeri Medan.
Menurutnya, persoalan salah penulisan buku tersebut sangat sensitif. Sehingga cepat menimbulkan keresahan di masyarakat. Dia juga meminta agar buku yang beredar di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara tersebut segera ditarik.
"Jika ada salah, jangan sempat masyarakat resah dan segera ditarik dari perendaran. Kalau ada informasi yang salah, pasti ada efek yang buruk. Harus cepat direspon," pungkas Musyuhito.
Sebelumnya, penulis buku yakni Fauzi Abdul Ghofur dan Masyhudi menulis dalam buku Pendidikan Agama Islam (PAI) Nabi Muhammad SAW adalah nabi di urutan yang ke 13, sedangkan Nabi Isa Ke-25.
Akibatnya, sejumlah orangtua yang anaknya bersekolah di tingkat SD resah dan mengecam beredar buku di Kabupaten Padang Lawas Utara tersebut.
(Khafid Mardiyansyah)