KARANGANYAR - Tujuh hari sudah Pak Harto meninggal, tujuh hari pula makamnya tak surut dikunjungi warga yang ingin berdoa bagi almarhum Pak Harto.
Sejak Pak Harto dimakamkan, Astana Giribangun tak pernah sepi dari peziarah. Berjubelnya pengujung di makam Astana Giribangun pada hari ketujuh ini, Sabtu (2/2/2008), membuat pihak pengelola membatasi pengunjung waktu bagi pegunjung untuk berdoa, maksimal tiga menit.
Bahkan petugas Astana Giribangun tak segan-segan bertindak tegas. Peziarah yang berdoa lebih dari tiga menit akan diperingatkan melalui pengeras suara untuk segera keluar dari Cungkup Argosari, tempat Pak Harto dimakamkan. Meski demikian, petugas akan memberi kesempatan bagi para pengunjung untuk melanjutkan doanya di luar Cungkup Argosari.
"Terkait pembatasan waktu berkunjung ke cungkup Argosari menyesuaikan situasi saja. Jika memang ramai waktunya dibatasi agar semua bisa masuk ke ruang utama," ujar pengurus harian Astana Giribangun, Sukirno.
Ramainya pengunjung di Astana Giribangun di Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih ini juga membuat pengelola kompleks pemakaman ini berbenah. Kini, seluruh peziarah diminta untuk mengisi buku tamu, yang selanjutnya akan mendapat kertas untuk dibawa masuk ke area makam. Â
Di dalam makam sendiri para peziarah juga tidak boleh seenaknya sendiri, karena ada beberapa petugas berpakaian preman dan berambut cepak yang bertugas mengawasi peziarah. "Memang beberapa petugas itu permintaan dari Mbak Tutut karena hari ke-lima dan ke-enam kurang rapi dalam cungkup Argosari," papar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.