KULONPROGO - Sekitar 80 ekor anak penyu (tukik) dilepasliarkan di Pantai Trisik, Desa Banaran Kecamatan Galur, Kamis (10/9/2008).
Tukik ini merupakan hasil penangkaran yang dilakukan oleh nelayan lokal yang tergabung dalam kelompok konservasi Penyu Abadi, bekerja sama dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehewanan, Kehutanan, dan Perikanan Kelautan (Dispertalaut) Kabupaten Kulonprogo.
Ketua Konservasi Penyu Abadi, Joko Samudro mengatakan tukik yang dilepas ini baru berusia sekitar 25 hari. Kebetulan tukik yang dilepas ini merupakan jenis penyu hijau yang dulunya banyak terdapat di wilayah Pantai Trisik. Selain itu, juga masih ada penyu sisik, dan penyu belimbing yang sekarang sudah jarang diketemukan.
"Ini merupakan upaya warga untuk melestarikan penyu ke habitat alamnya," jelas Joko.
Saat musim bertelur, kini hanya bisa dijumpai sekitar 7 hingga 8 sarang saja. Itupun hanya bisa diketemukan satu kali dalam satu tahun. Dahulu jumlah sarang ini mencapai puluhan. Banyaknya warga yang mengambil telur dan berburu penyu, mengakibatkan habitatnya menjadi berkurang.
Kini untuk menjaga ekosistem yang ada, anggota kelompok terus melakukan pemantauan di sepanjang pantai. Setiap ada penyu bertelur  di pantai, seluruh telurnya langsung diambil. Telur-telur ini kemudian dipindah ke dalam areal penangkaran untuk memudahkan pemantauan.  Setelah 65 hari dipendam dalam pasir, tukik ini menetas dan siap untuk dilepaskan.
"Sebelumnya dilepas, biasanya kita taruh di aquarium dan kolam, untuk beradaptasi dulu sebelum dilepas kelaut," imbuh kepala dusun Banaran ini. Kini kelompk konservasi masih memiliki sekitar 5 lagi dengan jumlah telur mencapai 750 buah. Kemungkinan telur-telur ini akan menetas dua minggu lagi.
(Fitra Iskandar)