Puslatpur TNI Sebaiknya di Pulau Terluar

Amir Tejo, Jurnalis
Kamis 14 Agustus 2008 15:08 WIB
Share :

SURABAYA - Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) milik Marinir di Grati Pasuruan sebaiknya dipindahkan saja ke pulau-pulau terluar Indonesia.

Pemindahan ke puslatpur ke pulau-pulau terluar Indonesia ini selain meminimalkan konflik pertanahan dengan warga, sekaligus untuk menjaga pulau-pulau terluar di Indonesia.

"Tanah itu kan milik rakyat. Yang diserahkan kepada negara lewat kontrak politik. Makanya kalau memang milik rakyat, dikembalikan saja ke rakyat," kata pengamat hukum dari Universitas Airlangga, Wayan Titib di Pengadilan Militer III/12 di Surabaya, Kamis (14/8/2008).

Pernyataan itu diungkapkannya di sela-sela acara sidang terhadap 13 terdakwa marinir, yang terlibat kasus penembakan empat warga Grati Pasuruan terkait sengketa lahan pada 2007 lalu.

Wayan juga mempertanyakan legalitas praktek menyewakan tanah milik TNI AL kepada swasta."Dari uang sewa yang masuk tersebut, apakah semuanya sudah diserahkan kepada negara sebagai Pendapatan Asli Negara? Kalau tidak, seharusnya KPK turun tangan," ujar Wayan.

Insiden Alastlogo adalah peristiwa penembakan oleh Marinir TNI AL terhadap warga petani pada tanggal 30 Mei 2007 di Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Peristiwa ini dipicu sengketa tanah seluas 539 hektar.

Warga Alastlogo merupakan salah satu pihak yang memperebutkan tanah seluas 539 hektar di 11 desa di dua kecamatan, Kecamatan Lekok dan Grati yang juga diklaim PT Rajawali Nusantara.

Bentrokan antara warga dan Marinir terjadi saat warga mencoba menghalau pembongkaran yang dilakukan PT Rajawali terhadap lahan yang telah mereka tanami ketela. Para Marinir yang melakukan pengawasan di lahan tersebut terlibat ketegangan dengan warga.

Penembakan terjadi setelah Marinir mengeluarkan tembakan peringatan. Namun, kemudian tembakan pun diarahkan ke warga. Empat orang tewas dalam peristiwa itu, delapan mengalami luka tembak.

Namun, versi TNI, menyebutkan kejadian berawal saat 13 personel Marinir berpatroli selepas apel pagi, sekitar pukul 08.00.

Sekitar pukul 09.30, regu patroli melintas Desa Alas Tlogo yang terdapat kerumunan warga seperti hendak berunjuk rasa. Pimpinan patroli, Letnan Budi meminta warga mengurungkan niat unjuk rasa.

Namun, sekitar 10 menit kemudian muncul massa dengan membawa celurit, kayu, dan batu. Massa tampak beringas, berteriak-teriak, dan menyerang. Sebanyak lima anggota patroli pun terluka.

Menghadapi situasi tidak terkontrol itu, anggota Marinir menembakkan senjata ke atas sebagai peringatan. Tapi, ada yang meminta warga untuk tidak takut, dan mengatakan senjata yang dibawa Marinir itu hanya peluru karet.

Marinir pun menembakan senjata ke tanah, untuk membuktikan senjata mereka berisi peluru tajam. Namun peluru-peluru itu diduga memantull dan mengenai warga.

(Fitra Iskandar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya