PEKANBARU - Malang benar bagi Komarudin (8), gara-gara ikutan sunatan masal gratis "kepala burungnya" putus . Hal itu terjadi karena manteri yang menangani sunatan lalai.
Hal itu terjadi saat Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau mengadakan sunatan masal di Kantor Camat Belisan. Kedua orang tua Kamarudin yakni Abdul Wahab (40) dan Hajar (35) menceritakan bahwa mereka tergiur untuk ikutan massal karena memang tidak dipungut biaya.
Kejadian salah potong itu terjadi pada Senin pekan lalu di Kantor Camat. Saat itu anaknya merupakan urutan ke 70. Namun ketika anaknya mendapat giliran dipotong, tiba mereka dikejutkan dengan suara jeritan dari anakya
"Setelah saya ternyata manteri yang memamotong burung anak saya yakni Sukri salah memotong sehingga menyebabkan bagian kepalanya kemaluanya putus. Karena kejadian itu dia langsung kami bawa ke RSUD Rengat Inhu," kata Abdul Wahab pada okezone, di ruang Flamboyan nomor 01 rumah sakit Awal Bros Pekanbaru, Senin (13/7/2009).
Dia mengatakan, setelah kejadian itu pihak RSUD Rengat memutuskan untuk menyambung bagian batang dengan kepalanya. "Namun sekira seminggu ternyata kondisinya tidak baik, dia bagian sambungannya terus terjadi pendarahan, sehingga terpaksa sekarang ini dilarikan di RS Awal Bross," kata pria yang berfrofesi sebagai petani dengan nada sedih.
Dengan kejadian itu dia sangat menyayangkan kejadian ini bisa terjadi dan dia berharap ada yang mau bertanggungjawab, meningingat bahwa penis anaknya yang terpotong itu adalah mutiara bagi anaknya hingga seumur hidup.
"Kami berharap anak saya pulih seperti sediakala dan hidup normal nantinya, dan kejadian ini tidak terulang dan siapa yang bersalah harus bertanggungjawab," pungkas pria warga SP 08.
Sementara itu pantauan okezone, keadaan Komarudin yang masih duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar sendiri masih terbaring lemah. Cairan infus terus terpasang untuk membantu nutrisi ketahanan tubuhnya. Sedangkan untuk mencegah goresan-atau luka sebuah tembat penutup nasi mennyelimuti kemaluanya. "Ini untuk melindungi saja" tambah Hajar.
(Fitra Iskandar)