TULUNGAGUNG - Bila di Kabupaten Salatiga Propinsi Jawa Tengah memiliki Rawa Pening, seperti halnya di Kabupaten Ponorogo dengan Telaga Ngebelnya, Kabupaten Tulungagung tak mau kalah.
Tidak hanya Waduk Wonorejo, atau sederetan Pantai Selatan, Popoh, Sidem dan Sine serta situs peninggalan sejarah Kerajaan Kadiri. Daerah tingkat II yang juga menyandang julukan Kota Marmer itu juga memiliki wisata berbasis air tawar nan indah.
Adalah Sumber Sirah namanya. Sebuah mata air (sumber) yang berukuran besar. Karena kapasitasnya (air) yang di luar sumber pada umumnya, masyarakat Dusun Gleduk Desa Sukowidodo Kec Karangrejo menyebutnya dengan istilah Sirah (Jawa: Kepala). Tidak ada runutan sejarah resmi yang menjelaskan kenapa mata air ini memperoleh nama Sumber Sirah.
Yang terlihat kasat mata ketika kita berkunjung ke sana, hanyalah luapan air yang berlimpah ruah. Tumpahan dari sumber kehidupan ini membuat genangan seluas lapangan bola.
Luapan yang terpusat persis di bawah kaki akar tunggang beringin setinggi sekitar 10 meter. Tidak hanya itu. Percikan-percikan bintik bintik air dari bawah tersebut juga muncul di sekitar trembesi tua raksasa dan pohon ketepeng Cina yang terlihat begitu renta.
Puluhan batang pohon besar yang diperkirakan berusia puluhan, bahkan ratusan tahun itu berkeliling 180 derajat mengitari mata air. Tumbuhan-tumbuhan ini tidak hanya memamerkan akar tunggang yang menjalar menembusi tanah hingga batas lingkaran. Namun juga sulur-sulur serabut akar yang menyembul dari pori-pori batang pohon.
Beberapa ekor burung kicau berloncatan di atas pucuk-pucuk tertinggi. Satu-dua burung nampak berlari menuruni pucuk yang lebih rendah. Di sela gumpalan dedaunan kering (sarang) itu, makhluk-makhluk bersayap ini menyelinap ke dalam.
Begitu teduh dan lebatnya seluruh aksesoris pepohonan membuat riak-riak yang terdorong dari bawah, melebar ke atas lalu pecah, tidak bisa terlihat jelas. Baru bisa menyaksikanya dengan gamblang bila mendekat dan berjongkok di bawah pepohonan besar itu.
"Dari cerita orang tua terdahulu, air yang ada ini dulu lebih besar lagi. Saking besarnya, seluruh sawah warga Desa Sukowidodo bagian selatan ini terbenam," tutur Paiman (70), warga yang ditunjuk pemerintah desa bertanggung jawab atas kebersihan dan kenyamanan mata air Sumber Sirah.
Sebagian besar warga desa, dulu menyebut puluhan hektar sawah yang terhampar luas "mengepung" mata air Sumber Sirah ini sebagai daerah rawa. Selain kesulitan bermata pencaharian sebagai pencocok tanam, Sumber Sirah kala itu hanya menjadi bencana bagi warga.
"Sebab setiap musim penghujan, kata para orang tua air rawa ini selalu banjir sampai masuk ke rumah warga. Dan ini sangat menyulitkan sekali," tutur Paiman menirukan cerita para leluhurnya.
Luapan air yang demikian besar tidak ada habis-habisnya tersebut membuat pemerintah kolonial Belanda saat itu gerah. Dari cerita ketok tular (dari mulut ke mulut), penjajah melakukan riset, termasuk menelusuri sumber yang menjadi biang terjadinya malapetaka alam tersebut.
Begitu ditemukanya pusat mata air, para meneer Belanda itu langsung melakukan penyumbatan besar-besaran. Puluhan ton ijuk didatangkan dari luar Sukowidodo. Ijuk bercampur kulit padi dimasukkan secara paksa ke dalam lubang sumber mata air terbesar. Setelah proses penetrasi berhasil dilakukan, sebatang pohon beringin ditancapkan untuk mengganjal tekanan air.
Pasca penyumbatan tersebut, air yang menghuni puluhan hektar rawa berangsur angsur menyusut dan mengering. Bekas rawa yang kita jumpai saat ini adalah hamparan sawah yang menjadi gantungan hidup seluruh penduduk Desa Sukowidodo.
"Bila pohon beringin itu dicabut, seluruh kawasan persawahan ini tentu banjir kembali," terangnya.
Setelah air menyusut dan mengumpul seperti telaga, Belanda kemudian membangun loji (semacam kantor dan rumah) perkantoran yang dilengkapi mesin penyedot air.
Kejernihan sumber sirah didayagunakan untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK). Selain pipa berukuran besar, peninggalan bangunan penjajah ini masih terlihat dengan adanya material bata dan cor yang tersisa. Tanpa ada keterangan yang lebih jelas lagi, loji yang sebelumnya menjadi rumah peninggalan Belanda itu pada agresi kedua tahun 1949 dihancurkan oleh para pejuang.
"Semua yang ada diluluhlantakkan. Yang tersisa tinggal batu bata pondasi bangunan yang ada di persawahan," pungkasnya.
Dibangun Kolam Renang dan Wisata Binatang
Untuk memperkuat keberadaan Sumber Sirah sebagai lokasi wisata yang menawan, pemerintah Desa Sukowidodo berencana membangun kolam renang dan kebun binatang mini di sekitar sumber mata air.
Sesuai "master plan"-nya, kolam berukuran besar itu berjarak 10 meter sebelah timur mata air. Lokasi ini menggantikan loji Belanda yang telah menjadi puing-puing. Seluruh air kolam renang akan dipasok dari sumber mata air Sirah.
"Rencana itu muncul beberapa tahun yang lalu. Dan rencananya Agustus 2009 ini baru akan dimulai," terang Paiman.
Kolam renang yang besar di tengah area persawahan itu akan terlihat alami di sebelahnya berkeliaran margasatwa lazimnya wisata sebuah kebun binatang.
Bila nantinya terealisasi sesuai rencana, ada 3 lokasi yang bisa dikunjungi di wilayah komplek wisata Sumber Sirah. Yakni sumber mata air Sirah sendiri, kolam renang dan kebun binatang.
Untuk persiapan ini, pemerintah akan melakukan pembenahan seluruh akses yang berkaitan dengan lokasi wisata, terutama jalan yang saat ini masih berupa tanah basah dan sebagian makadam.
"Dalam waktu dekat ini rencananya akan dilakukan pengaspalan," pungkasnya.
Kabag Humas Pemkab Tulungagung Wahyu Aji membenarkan jika mata air Sumber Sirah merupakan salah satu dari tempat wisata yang ada di Tulungagung. Dan untuk meningkatkan daya tarik wisata, pemerintah masih melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait.
"Semuanya butuh persiapan secara matang. Termasuk jika benar dibangun, tentu akses jalan utama juga akan dibenahi," ujarnya singkat.
(Hariyanto Kurniawan)