Kisah Pemecah Batu di Purwakarta, Bertahan Hidup di Tengah Kerasnya Batu

Mulyana, Okezone · Rabu 02 Mei 2018 05:33 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 02 525 1893429 kisah-pemecah-batu-di-purwakarta-bertahan-hidup-di-tengah-kerasnya-batu-Odl8empcLy.jpg Seorang ibu pengolah limbah batu, Neni Heti. (Foto: Mulyana/Okezone)

PURWAKARTA – Kekayaan alam yang melimpah ruah di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, membawa berkah bagi warga sekitar. Sebut saja, keberadaan tanah liat dan beberapa gunung batu.

Terbukti, sampai saat ini hasil alam tersebut masih banyak dimanfaatkan warga di wilayah bagian selatan kabupaten kecil ini sebagai sumber mata pencaharian. Untuk tanah liat misalnya, warga di sana memanfaatkannya sebagai bahan dasar kerajinan kriya yang bernilai ekonomis. Di antaranya, keramik, tembikar, genting, dan pot bunga.

Tak hanya tanah liat, keberadaan gunung batu pun ternyata menjadi sumber pendapatan bagi warga. Apalagi, sejak adanya proyek tambang batu di kawasan tersebut, baik warga setempat maupun warga luar desa, banyak yang memilih menjadi buruh pemecah batu.

Uniknya, pekerjaan yang tergolong berat ini tak hanya dilakukan oleh pria, tapi justru didominasi ibu-ibu. Kondisi tersebut, seperti yang terlihat di Kampung Pasir Peuteuy, Desa Pamoyanan Kecamatan Plered.

Selama ini, ibu-ibu di desa tersebut sebagian besar lebih memilih mengais rezeki dari limbah batu perusahaan tambang yang terdapat di desanya. Batu-batu yang tak terpakai itu mereka manfaatkan supaya bisa layak jual.

Untuk diketahui, Desa Pamoyanan, Kecamatan Plered merupakan areal yang dikelilingi perusahaan tambang batu. Tak heran hampir sebagian warga di wilayah itu bermata pencaharian menjadi buruh di perusahaan tambang dan adapula menjadi penjual batu belah.

(Neni Heti, pemecah batu. Foto: Mulyana/Okezone)

Meski begitu, tak semua batu belah layak dan dapat di produksi perusahaan. Biasanya warga sekitar memanfaatkan limbah batu yang tak terpakai untuk kemudian diolah menjadi layak jual.

Salah seorang ibu pengolah limbah batu, Neni Heti (29) mengungkapkan, pekerjaannya ini gampang-gampang susah. Ia hanya memecahkan batu yang tak terpakai di perusahaan menjadi serpihan batu split. Memang, jika tidak hati-hati, tangan dan kaki pun terkadang bisa terluka.

"Ya lumayanlah, daripada diam di rumah, lebih baik menjadi buruh pemecah batu," ujar Neni, belum lama ini.

Neni mengaku, dengan alat seadanya dia bisa mengumpulkan hingga satu kubik batu split setiap pekannya. Pekerjaan ini memang cukup alot. Memingat, dirinya harus mengubah bentuk batu menjadi bongkahan kecil.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini