Kisah Syafira, Ditinggal Orangtua saat Tsunami, Kini Bercita-Cita Jadi Sutradara

Rayful Mudassir, Okezone · Selasa 27 Desember 2016 04:32 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 27 340 1576234 kisah-syafira-ditinggal-orangtua-saat-tsunami-kini-bercita-cita-jadi-sutradara-Fc2u2eWhGT.jpg Syafira (baju hitam) usai membaca puisi saat malam renungan 12 tahun tsunami di Museum Aceh. (Foto: Rayful Mudassir/Okezone)

BANDA ACEH – Syafira tak dapat membendung kesedihan ketika menceritakan kembali peritiwa 12 tahun silam. Mengisahkan ulang gempa dan tsunami, sama dengan membuka luka lama yang sudah terbenam.

Sudah rencana Tuhan membawa gadis itu kembali ke Banda Aceh. Berangkat dari Simeulue, sehari sebelum gempa dan tsunami 26 Desember 2004, bersama keluarga besar, ia berangkat dan tinggal di Ulee Lheue. Daerah itu satu dari sekian banyak yang nyaris rata dengan tanah saat digulung gelombang hitam itu.

Selama setahun, Fira tinggal bersama keluarganya di Kepulauan Simeulue, Aceh. Berangkat ke Banda tidak lain untuk mengantar sang nenek menuju bandara, terbang menunaikan haji. Ia bersama 21 orang kerabat lain bermalam di rumah keluarga di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh.

Sekira pukul 08.00 WIB, pada Minggu 26 Desember 2004 itu, bumi Aceh diguncang gempa 9,3 skala Richter (SR). Sejumlah bangunan bertingkat rubuh. Orang-orang kebingungan, bencana apa yang akan terjadi. Tak lama berselang, gulungan air hitam muncul dari arah laut menghancurkan nyaris seluruh di hadapannya.

Fira yang masih berusia delapan tahun ikut merasakan amukan tsunami. Tak banyak yang dapat diceritakan. Yang ia tahu hanya gelap. Air tsunami keluar dari perut bumi akibat patahan besar hasil gempa yang terjadi di 160 kilometer dari utara Pulau Simeulue, Aceh dengan kedalaman 10 kilometer.

“Cuma Fira yang selamat dari seluruh keluarga di rumah itu,” kisahnya kepada Okezone, Senin 26 Desember 2016. Ia terbawa gelombang besar pasang hingga tiga kilometer dari rumah. Gadis itu selamat setelah tersangkut di salah satu toko penjual gas.

Gadis kelahiran 1996 itu harus rela kehilangan seorang kakak dan dua orang adiknya. Namun fakta paling menyakitkan ialah ia kehilangan kedua orangtuanya.

Tidak ada yang dapat menolak takdir Allah terhadap seorang hamba. Itu pun yang diyakini hingga di bangku kuliah. Bagi Syafira, kehilangan kedua orangtua selayak hilang harta tak ternilai.

Saat mengikuti malam renungan 12 tahun bencana gempa dan tsunami di Museum Tsunami, Aceh, Syafira ditunjuk sebagai pembaca puisi. Tidak segan-segan, ia membacakan sajak ciptaan Ahmad Sina Reza;

Surat Kecil untuk Mama

Masih rapi dalam ingatan

Saat mama antar aku ke pintu sekolah

Lambaian tanganmu terus melambai

Hingga hilang ditelan kejauhan

Sabtu itu aku belajar dengan tenang

Ibu guruku sayang dan seorang teman kecil yang sering melukis harapan

di kursi kayu hitam

Esok hari ahad, kira-kira umurku delapan tahunan

Kubuka mata dari lelapnya tidur panjang semalam

Kuhirup udara pagi segar hadiah dari Tuhan

Tiba-tiba bumi bergoncang, kakiku pun bergoyang diayun tanah datar

Suara gemuruh menakutkan

bagai guntur menyerang

Aku mulai menerawang

Kulukis kembali detik-detik itu agar kalian paham

12 tahun lalu mama pergi ke negeri keabadian

Lewat sapaan gelombang panjang besar hitam

Ingin kuziarahi kuburmu

Menanyakan lelapkah tidurmu di negeri seberang

Namun kemana tujuan

Karena dirimu tanpa pusara

Puisi itu didengungkan di hadapan seratusan warga yang memadati Museum Tsunami sehari sebelum peringatan 12 tahun tahun gempa dan tsunami.

Kini gadis bernama lengkap Syafira Yasmin itu sedang menikmati bangku kuliah di Institute Seni Budaya Indonesia – Aceh. Ia dibiayai oleh keluarga ibunya. Mengambil jurusan Teater, ia bercita-cita menjadi seorang sutradara terkenal.

Selama di bangku kuliah, Syafira pernah diajak syuting film pendek karya anak Aceh, seperti “Polem Ibrahim” dan “Sibak Rukok Teuk 2”. Kedua tawaran itu diterimanya. Bahkan kini turut dalam pembuatan video visit Aceh Besar, kabupaten tempat ia bermukim bersama keluarga ibunya saat ini.

Bercita-cita sebagai sutradara awalnya tidak terpikirkan di benak Syafira. Dari coba-coba masuk jurusan teater, lambat laun ia menggeluti betul seni ini. Cita-cita terbesarnya adalah menjadi seorang sutradara andal.

Baginya, banyak cara membahagiakan kedua orangtuanya, meski sudah di alam lain. Selain lantunan doa yang disampaikan saban kali usai salat, Fira juga sedang berupaya berupaya menunjukkan bahwa ia mampu menjadi sutradara terkenal.

“Bagi kalian yang masih punya keluarga, hargai mereka, semuanya. Karena waktu tidak akan terulang. Semua akan terasa saat semua sudah tidak ada,” pesannya.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini