nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengintip 'Pengamanan' Pertunjukan Wayang Kulit Bali

Tri Purna Jaya, Jurnalis · Kamis 24 Agustus 2017 06:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 24 340 1761918 mengintip-pengamanan-pertunjukan-wayang-kulit-bali-t7itykGjTw.jpeg (Foto: Tri Purna)

LAMPUNG TENGAH – Hiburan rakyat yang selalu penuh sesak masyarakat tak hanya membutuhkan pengamanan secara fisik. Pengamanan pun dilakukan untuk hal-hal yang gaib.

Pande Putu Sutha Baginda (53) tersenyum sambil merapikan beberapa benda keperluan sesaji di meja kecil di depannya. Benda-benda sederhana dan mudah ditemui itu di antaranya, beberapa ikat padi, berbagai jenis kembang, daun kelapa muda (janur) dan dupa.

Putu –biasa dipanggil, mendapat mandat ‘mengamankan’ pertunjukan wayang kulit di Lapangan Merdeka, Desa Ruktiharjo, Kecamatan Seputih Rahman, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu 23 Agustus 2017 malam.

Acara ini menampilkan wayang kulit Bali atau ceng blong. Hampir seribu masyarakat dari komunitas Bali dan sekitarnya di desa itu tumplek di lokasi acara. Polres Lampung Tengah pun menurunkan ratusan polisi untuk berjaga di lokasi.

Begitu pun Putu, dia berkeliling ke beberapa titik di lapangan, ‘berbicara’ dengan para , ‘penghuni’ dan memasang ‘pagar’, baik untuk keselamatan warga, pertunjukan wayang, dan dalang.

“Ritual ini wajib dilakukan untuk mengantisipasi pikiran kotor yang bisa mengganggu jalannya pertunjukan,” kata Putu yang juga bergelar Jeru Mangku Sidekarye ini.

Putu menjelaskan, ritual yang dijalankannya untuk penyucian dan meminimalisir pengaruh jahat yang bisa mengganggu jalannya pertunjukan wayang kulit itu.

"Ritual juga berfungsi sebagai pagar gaib. Kalau ada yang memiliki ilmu kebatinan, pasti akan melihat situasi baik di dalam maupun di luar arena pertunjukkan wayang," katanya.

Proses ritual penyucian ini didapatkannya setelah bergiat di Wayang Bali sejak 1999 silam. Dalam penyucian ini, pengaruh buruk dan jahat dinetralisir.

“Istilahnya, Nyadu Mala, Nyapu Leger. Itu istilah untuk membersihkan segala perbuatan kotor yang memengaruhi etika prilaku manusia," katanya.

Ritual ini, kata Putu, mutlak dilakukan sebelum pertunjukan wayang dimulai. Menurutnya, aura mistis dalam Wayang Bali sangat kuat dan butuh ‘keamanan’ ekstra, terlebih kepada dalang. Sebab, dalang yang memainkan wayang berhubungan dengan tiga alam, yakni alam bawah sadar, alam nyata dan alam angkasa.

“Dalang yang berhubungan, oleh karena itu ada satu orang lagi yang harus ‘berjaga’ di belakangnya dan wilayah lokasi pertunjukan,” katanya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini