Share

Harapan Rahma di Atas Satu Kakinya

Agus Atha Suharto, Sindo TV · Selasa 01 November 2016 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2016 11 01 512 1530041 harapan-rahma-di-atas-satu-kakinya-jVQJ4DIFl5.jpg Harapan Rahma Akan Harapan Besarnya di Masa Depan (Foto: Agus/INews)

PATI - Keterbatasan fisik tidak membuat Rahmawati (6), bocah asal Dukuh Pojok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Jakenan, Pati, Jawa Tengah, ini minder. Meski hanya mempunyai satu kaki, ia tetap bermain dan sekolah seperti anak-anak seumurannya.

Sejak usia empat bulan, Rahma diasuh oleh nenek dan kakeknya, Warni (65) dan Saryo (85) karena kedua orang tuanya, Suwarni dan Muryono sudah tidak menginginkannya lagi. Rahma tidak diakui orang tuanya karena lahir dengan kondisi cacat. Hanya mempunyai kaki kiri.

Kakek dan neneknya memang sudah berusi renta. Untuk bertahan hidup sehari-hari, keduanya bekerja serabutan. Warni bekerja menjadi kuli tani. Sementara itu Saryo memelihara kambing yang saat ini tinggal dua ekor. Mereka berdua harus tetap semangat merawat Rahma.

Kini, Rahma menjadi siswa kelas I SDN III Sidomulyo. Rahma menjadi siswa yang sangat pintar dan mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Dia sangat semangat pergi sekolah. Jarak sekolah yang cukup jauh membuat neneknya tidak tega membiarkannya pergi sekolah sendirian. Untuk itu, neneknya harus mengantar dan menungguinya saat belajar di dalam kelas.

Saat menunggui, sang nenek, Warni, tidak mau diam. Dia kerap membantu menyapu halaman sekolah. Hal itu menjadikannya diangkat menjadi tukang kebun di sekolah itu. Dengan harapan mendapat uang tambahan.

“Ya harus bagaimana lagi. Keadannya sudah seperti ini. Sejak usia empat bulan, dititipi menantu saya untuk merawat Rahma dengan alasan ingin merantau. Namun setelah itu tidak ada kabar lagi. Belakangan saya mendapat kabar ibu Rahma menikah lagi dengan orang Gunungwungkal,” ujar Warni.

Sementara itu, anaknya, Muryono bekerja di kapal dan jarang pulang. Kalaupun pulang Pati memilih tinggal dengan saudaranya. Mungkin karena minder mempunyai anak yang hanya mempunyai satu kaki. Maryono pernah beberapa kali mendatangi anaknya itu dan memberi uang.

Warni bercerita, Rahma merupakan anak yang memiliki cukup nalar untuk anak seusianya. Uang sakunya ditabung. Misalnya sehari uang saku Rahma Rp 4 ribu, ditabung Rp 2 ribu. Dalam setahun, tabungannya terkumpul Rp 800 ribu. Cucunya itu juga tidak pernah sakit dan jarang rewel.

“Terkadang, saya menangis kalau membayangkan bagaimana nanti kalau sudah meninggal. Siapa yang akan merawatnya. Pernah saya berkata kepada Rahma, bagaimana kalau nanti meninggal. Saya kaget karena dia menjawab ingin ikut meninggal juga,” tuturnya.

Selama ini, sudah ada beberapa masyarakat yang peduli kepadanya. Dua tahun lalu, ada yang menyumbang tongkat. Namun Warni hanya kawatir dengan masa depan cucunya. Ia berharap ada yang mambantunya membeli kendaraan roda tiga untuk orang yang disabilitas. Supaya Rahma bisa tetap sekolah hingga jenjang tinggi.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini