JAKARTA - Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menyatakan TNI siap mengamankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di manapun berada. Hal itu diungkapkannya menanggapi wacana agar SBY menetap di Istana Negara dan bukan di Cikeas.
"Di mana saja presiden ada TNI siap. Mau di cikeas, mau di Bali, mau di luar negeri, TNI siap mengamankan presiden," ujar Djoko di Istana Negara, Selasa (11/8/2009).
Pengamanan Presiden selama ini, menurutnya sudah berlangsung baik dan penambahan personel pengamanan dilakukan dalam kondisi-kondisi tertentu termasuk apakah di Cikeas atau di Istana Negara.
"Sesuai dengan kebutuhan. Yang penting adalah pengamanan itu bisa mencukupi," ujarnya. SBY pun menurutnya tak perlu mengurangi aktivitasnya atau pindah dari Cikeas hanya karena adanya ancaman teror.
Soal penghidupan kembali desk antiteror di kantor-kantor TNI di kecamatan?
"Desk antiteror itu pada 2005, saya selaku kepala staf angkatan darat membentuk desk antiteror Angkatan Darat sampai kepada Kodam-Kodim. Itu adalah satu fasilitas untuk mengumpulkan keterangan-keterangan, informasi tentang teror, dan itu dikaji dan dianalisa kemudian hasilnya dilaporkan ke satuan atas," jelasnya.
Kesimpulan-kesimpulan itulah, menurutnya, yang akan dijadikan bahan pertimbangan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam upaya kontra teror.
Di samping itu, TNI, kata dia, memiliki tiga pola antiteror. Satu adalah pendeteksian, ini dilakukan oleh satuan-satuan intelijen, dan satuan-satuan teritorial. Kedua, satuan pencegahan, pencegahan ini sifatnya persuasif dan edukatif dengan pembinaan teritorial, TNI Masuk Desa (TNMD). Â
Ketiga adalah pola penindakan. TNI sudah mempunyai satuan penanggulangan teror, apakah itu Kopassus, Marinir, Paskhas, Kodam, dan Armabar, sudah mempunyai tim, satuan penanggulangan teror.
(Fitra Iskandar)