JAKARTA - Sekira 298 ribu orang di Indonesia hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA), meski secara kumulatif menurut data Departemen Kesehatan hingga September 2009 tercatat 18.442 kasus AIDS.
Hal itu dikemukakan Menko Kesra Agung Laksono pada acara pembukaan seminar berkaitan dengan Pekan Kondom Nasional 2009, di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jl Salemba, Jakarta, Senin (30/11/2009).
Seminar bertemakan "Use Codoms, Celebrate Life" (Gunakan Kodom, Selamatkan Jiwa). Kegiatan ini sekaligus menyambut Hari AIDS Sedunia 2009 yang bertema "Akses Universal dan Hak Asasi Manusia."
Â
Menurut Menko Kesra, epidemi HIV telah berkembang sangat pesat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kasus ini telah mengakibatkan kematian 25 juta orang dan saat ini telah terdapat lebih dari 33 juta orang yang hidup dengan HIV.
"Setiap hari secara estimasi di dunia terdapat 7.400 kasus baru HIV atau lima orang per menit dan 96 persen di antaranya merupakan populasi di negara berkembang," kata Menko Kesra yang juga Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional.
Dikemukaan Agung Laksono, di Indonesia hampir tidak ada provinsi yang dinyatakan bebas HIV dan AIDS, bahkan diperkirakan saat ini HIV dan AIDS telah ditemukan di lebih separuh jumlah kabupaten dan kota.
Menurut Agung, jika dilihat dari cara penularannya, mayoritas melalui heteroseksual yakni 49,7 persen, penggunaan narkoba suntik (40,7 persen), dan pria seks dengan pria (3,4 persen). Sebagian besar kasus AIDS tersebut didapatkan pada kelompok usia 20-29 tahun, yaitu sebesar 49,57 persen, kelompok usia 30-39 tahun (29,84 persen), dan kelompok usia 40-49 tahun (8,71 persen) kasus.
Sementara itu rata-rata kumulatif kasus tertinggi AIDS, lima besar provinsi meliputi Papua 17,9 kali angka nasional, Bali (5,3), DKI Jakarta (3,8), Kepulauan Riau (3,4), dan Kalimantan Barat (2,2).
Meko Kesra menjelaskan rata-rata kumulatif kasus AIDS nasional hingga September 2009 adalah 8,15 per 100.000 penduduk. Data tersebut, menurutnya, menunjukkan adanya ancaman serius terhadap keberlangsungan generasi muda saat ini dan masa depan.
"Kini semua elemen masyarakat tidak bisa lagi sekadar peduli, tetapi sudah harus melakukan tindakan nyata untuk mencegah HIV dan AIDS," katanya.
Penanggulangan HIV dan AIDS sebagai emerging infection disease telah dicantumkan ke dalam quick wins program reformasi birokrasi di jajaran Kemeko Kesra. Hal ini, katanya, menunjukkan komitmen pemerintah yang tinggi.
Pemerintah bersama-sama lembaga nonpemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat secara aktif melaksanakan gerakan nasional penyehatan dan pencerdasan bangsa. Hal ini guna menjawab terwujudnya pecapaian Tujuan Pembangunan Millenium 2015, yaitu mulai mengubah jalannya epidemi HIV dan AIDS melalui kerja keras dengan komitmen tinggi agar secara bersama-sama hingga 2025 untuk mencegah 1,2 juta infeksi baru.
Di lain pihak, kata Agung, secara nasional tantangan penanggulangan HIV dan AIDS terkendala belum memadainya cakupan dan efektivitas program untuk mencapai target universal. Kendala lain sistem pelayanan kesehatan yang belum merata, masih perlunya peningkatan tata kelola kepemerintahan yang baik.
"Juga perlunya peningkatan lingkungan sosial yang kodusif agar mampu mencegah stigma dan diskriminasi terhadap ODHA," pungkasnya. Â
(M Budi Santosa)