Diusir Perhutani, 14 KK Tinggal di Tengah Hutan

Muhammad Roqib, Jurnalis
Kamis 03 Desember 2009 02:02 WIB
Warga Desa Mojorayung terpaksa tinggal di tenda sementara di tengah kawasan hutan. (Foto: Muhammad Roqib/Koran SI)
Share :

MADIUN - Sebanyak 14 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari 61 jiwa warga Desa Mojorayung, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun terpaksa tinggal di tengah hutan wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madiun dengan seadanya.

Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Pasalnya, pihak Perhutani mengusir mereka dari lokasi tanah yang telah mereka tinggali selama puluhan tahun.

Padahal, sejak tahun 1991 silam, belasan warga ikut menanam dan merawat pohon pohon jati yang kini telah seukuran rangkulan orang dewasa itu. Karena tidak ada pilihan lain, warga terpaksa ikut program transmigrasi dari pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun ke daerah Barito Koala, Kalimantan Selatan.

Namun, sudah seminggu mereka membongkar rumah dan tinggal sementara di tenda darurat, ternyata sampai sekarang belum juga diberangkatkan.

Keluarga yang masih bertahan di tenda tengah hutan ini, yakni Sukiran, Murdiyanto, Markiat, Padianto, Ahmad, Yatimin, Sumiran, Samdi, Slamet, Supriyono, Sukir, Andi, Sukirno, dan Slamet. Keluarga terdiri dari kakek, nenek, bapak, ibu, anak-anak, dan balita terpaksa tinggal di tenda berbahan terpal itu.

Siang malam, mereka tidur di alas tikar di dalam tenda itu. Kondisi di dalam tenda penuh sesak. Selain ditempati banyak orang, barang barang juga terlihat banyak berserakan. Begitu pula, jika terjadi angin kencang atau hujan deras, maka sebagian penghuni tenda akan basah kuyup. Pada malam hari, tinggal di tenda itu juga sangat dingin.

Menurut Slamet (45), warga sebetulnya sudah menempati kawasan di tengah hutan ini sejak tahun 1991 silam. Saat itu, kata dia, warga boleh tinggal di kawasan ini asalkan ikut menanam pohon jati dan merawatnya.

"Satu KK itu harus menanam ribuan pohon jati di setengah hektar lahan selama satu tahun. Kami, diperbolehkan memanfaatkan lahan dengan menanam palawija di bawah tegakan pohon," ujarnya, Rabu (2/12/2009).

Namun, kata dia, setelah ribuan pohon jati ditanam di kawasan itu dan mulai mendekati masa panen, kini warga malah diusir. Pihak Perhutani menyatakan pada tahun 2010 lahan yang ditempati warga ini harus dikosongkan.

Menurut Paini (41), warga lainnya yang kini tinggal di tenda, mengatakan, sejak 25 November 2009 lalu rumahnya telah dibongkar. Sedangkan, anaknya, Evi Handayani, 10 tahun, yang duduk di kelas 5 SDN Wungu I juga terpaksa berhenti sekolah.

"Semua harapan kami bawa ke lokasi baru di daerah transmigrasi. Saya, suami, dan anak anak tak ada pilihan lain dan hanya berharap segera diberangkatkan transmigrasi," ujarnya.

Menurut dia, pihak Pemkab Madiun semula berjanji akan memberangkatkan transmigrasi pada 25 November lalu. Tapi, ternyata rencana itu diundur.

Administratur Perhutani KPH Madiun, Kristono, dikonfirmasi membantah kalau pihaknya melakukan pengusiran paksa. Dia menyatakan, warga keluar dari lokasi di tengah hutan itu karena sudah ada kesepakatan warga akan melakukan transmigrasi ke Kalimantan Selatan.

"Kami hanya memberikan keleluasaan pada warga yang akan ikut transmigrasi itu," kilahnya.

Sementara itu menurut Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Madiun, Hartanto, mengatakan, warga Desa Mojosari itu rencananya memang akan bedol desa ikut transmigrasi ke Barito Koala, Kalimantan Selatan.

"Semula, rencananya memang bakal berangkat pada 25 November, tapi ternyata masih ada administrasi yang belum selesai," ujarnya.

Menurut dia, saat ini pihaknya masih menunggu datangnya Surat Perintah Pemberangkatan (SPP) transmigrasi dari pusat. Sedangkan, Surat Terima Penempatan (STP) sudah diserahkan kepada warga.

"Sesuai rencana, masing masing KK itu akan mendapatkan 2 hektar lahan di daerah transmigrasi itu. Mereka akan bercocok tanam dan berkebun kelapa sawit di daerah itu. Kami berharap, kondisi mereka akan lebih baik dibanding kondisi mereka tinggal di hutan itu," ujarnya.

(Hariyanto Kurniawan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya