BANDUNG – Setelah ujian nasional (UN) ulangan digelar, tingkat kelulusan UN sekolah menengah umum (SMU)/ sekolah menengah kejuruan (SMK)/madrasah aliyah (MA) di Jawa Barat menjadi 99,9 persen atau hanya 50 siswa (0,01 persen) yang dipastikan tidak lulus dari total jumlah siswa peserta UN sebanyak 344.672 orang.
Pada UN utama, tingkat kelulusan UN SMA sebesar 97,14 persen, MA 97,33 persen, dan SMK 94,04 persen atau rata-rata ketiganya 96,17 persen. Pada UN ulangan tahun ini, siswa SMK yang tidak lulus menjadi terbanyak (36 siswa). Enam siswa SMA dari 4.407 peserta UN ulangan tercatat tidak lulus, dengan rincian program IPA 5 siswa dan IPS 1 siswa. Sementara, siswa MA yang tak lulus sebanyak 8 siswa dari 947 siswa, dengan rincian program IPS 4 orang dan agama 4 siswa.
”Angka kelulusan di Jabar memang yang tertinggi, tapi jangan dulu bangga karena kami juga belum tahu angka kecurangan di Jabar berapa. Karena dikhawatirkan ada korelasi negatif antara angka kecurangan dan angka kelulusan, kami akan telusuri,”
ujar Kepala Dinas Pendidikan Jabar Wahyudin Zarkasyi saat ditemui di kantornya, Selasa, 1 Juni, kemarin.
Kota Bogor menjadi daerah dengan jumlah siswa SMA peserta UN ulangan yang tak lulus terbanyak (3 orang). Sisanya, di Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Bekasi masing-masing satu siswa tidak lulus. Untuk MA, tercatat dua siswa
tidak lulus di Kota Cirebon dan Kota Depok. Selain itu, masing-masing satu orang siswa di MA di Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Karawang tidak lulus.
Untuk jenjang SMK, Kabupaten Karawang menjadi daerah dengan jumlah siswa tidak lulus UN ulangan yaitu 13 orang dari 2.494 peserta. Sisanya,di tersebar di kota Bandung dan Cirebon (3 siswa); Kabupaten Ciamis, Cianjur, Purwakarta, Subang, dan
Sukabumi (2 orang); serta Kota Bekasi, Cimahi, Depok, Tasikmalaya,Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bogor,Kabupaten Garut,dan Kabupaten Tasikmalaya masing-masing satu siswa. Total peserta UN ulangan di Jabar sebanyak 13.226 siswa.
”Kami belum menelusuri secara autentik, apakah ketidaklulusan ini memang siswa tidak bisa mengerjakan soal atau apakah mereka bolos mengikuti ujian. Terkait Karawang, di sana memang peserta UN ulangan untuk SMK banyak, maka dari itu wajar jika yang tak lulus juga paling banyak,” ucap Wahyudin.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal mengungkapkan, masih terdapat delapan sekolah di Indonesia setelah digelarnya UN ulangan yang tingkat kelulusannya nol persen. Menurut Fasli, sekolah-sekolah tersebut merupakan sekolah swasta
dan kebanyakan terdapat di Indonesia bagian timur.
”Sebelumnya pada UN utama lalu, tercatat 267 sekolah tingkat kelulusannya nol persen. Lalu kami datangi 100 sekolah di antaranya untuk mengevaluasi,” tutur Fasli.
Hasil evaluasi menyimpulkan, sekolah-sekolah dengan tingkat kelulusan rendah belum baik dalam rencana belajar, supervisi kepala sekolah belum ideal, serta sarana dan prasarana tidak memadai. ”Yang paling parah, sarana pustaka dan kecukupan buku ajar serta kualifikasi guru sangat kurang,” jelas Fasli.
Fasli mengaku, hingga kini pemerintah belum memastikan konsep UN untuk tahun depan. Menurutnya,UN akan terus dievaluasi untuk pelaksanaan yang lebih baik ke depannya.
(Rani Hardjanti)