JAKARTA - Munculnya nama mantan Deputi V Badan Intelejen Nasional (BIN) Muchdi PR dalam bursa pemilihan Ketua Umum Muhammadiyah adalah bukti ikut sertanya operasi penguasa dalam perkembangan ormas di Tanah Air.
Demikian disampaikan pengamat politik LIPI Siti Zuhroh. “Ini adalah akumulasi dari semuanya penurunan. Sekarang semua organisisasi di bawah bayang-bayang operasi penguasa,” katanya saat berbincang dengan okezone, Selasa (6/7/2010).
Diketahui, Muchdi yang sempat tersangkut kasus HAM ini sempat mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di Pimpinan Pusat Muhammadiyah, meski dalam penjaringan bakal calon Senin malam, Muchdi tidak lolos.
“Bagaimanapun Muhammadiyah adalah pilar demokrasi. Mau dibawa ke mana organisasi besar ini (kalau Muchdi terpilih). Ini memang bentuk pergeseran, berkaca pada mukmatar PBNU beberapa waktu lalu yang sampai ada isu money politics dan lain-lain. Lalu apa bedanya dengan parpol,” jelasnya.
Karena itu, lanjut Siti, khusus untuk Muhammadiyah, sebaiknya segera mengembalikan spirit dan nilai-nilai yang menjadi ciri khas Muhammadiyah, seperti pendidikan dan kesehatan.
“Dengan masuknya dia (Muchdi), Muhammadiyah akan terstigma. Masyarakat yang menjustifikasi bahwa Muhammadiyah itu dipertanyakan. Meskipun nantinya dia (Muchdi) tidak lolos, tetapi seolah-olah ada pembiaran di sini,” papar Siti.
(Dede Suryana)