Meski Terpuruk, Inu Kencana Tak Menyesal

Gin Gin Tigin Ginulur, Jurnalis
Kamis 05 Agustus 2010 10:13 WIB
blogspot (ilustrasi)
Share :

BANDUNG – Tak ada kata menyesal dalam kamus kehidupan Inu Kencana Syafiie. Meski kehidupannya terpuruk setelah disingkirkan dari IPDN gara-gara terlalu vokal, Inu mengaku tak akan berhenti menyuarakan kebenaran. Bagi Inu, apa yang dihadapinya setelah ‘dipecat’ dari IPDN hanyalah sebuah cobaan hidup.
 
“Menyesal? Tidak. Kalau cobaan terbesar itu kematian. Kita tidak bisa lari dari kematian, tidak bisa orang mencegah itu. Orang kaya dan orang miskin sama saja cobaannya. Miskin itu berat padahal tidak. Banyak orang kaya yang terjerat kasus. Bagi saya, apa yang dihadapi merupakan cobaan,” kata Inu kepada okezone, Rabu (4/8/2010) malam.
 
Inu mengatakan, sebelum ‘dikeluarkan’ dari IPDN, dia sempat berkali-kali mengikuti ujian disertasi di Unpad. Namun, beberapa kali pula dia tidak lulus. Menurut Inu, kegagalannya lulus dalam ujian disertasi ternyata masih terkait dengan keberaniannya membongkar kasus kekerasan di IPDN. Sebab, kata dia, salah seorang dosen penguji sudah diwanti-wanti oleh salah satu instansi pemerintahan agar tidak menandatangani disertasinya.
 
“Sebelum mereka (IPDN) mengusir saya, saya sempat ujian disertasi. Berkali-kali saya tak lulus, karena rupanya ada jegalan dari instansi pemerintahan. Tapi, dosen yang menjegal saya rupanya juga diusir dari instansi tersebut karena sudah terlalu tua. Akhirnya dia kasihan dan memberikan tanda tangannya pada disertasi saya. Saya pun mendapat gelar doktor,” tandas Inu.
 
Inu menambahkan, begitu selesai menyelesaikan studi di Unpad, dia mencoba melamar ke beberapa perguruan tinggi. Selain itu, Inu pun sempat mengajar mahasiswa S2 di beberapa perguruan tinggi.
 
“Begitu keluar dari Unpad, saya bikin surat lamaran ke beberapa perguruan tinggi. Saya juga ngajar mahasiswa S2 di beberapa di perguruan tinggi,” kata Inu.
 
Aksi Inu Kencana yang dinilai vokal dalam menyuarakan kebenaran di kampus IPDN berdampak buruk pada karirnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Setelah kasus Cliff Muntu mencuat, Inu disingkirkan dari IPDN.
 
Dia kemudian dimutasi ke Depdagri dan tidak mengajar lagi di IPDN. Akhirnya, Inu pun mundur dari pekerjaannya itu, tanpa mendapat uang pensiun.
 
Tiga tahun menghilang, pria kelahiran Kota Nagari Simalanggang Provinsi Sumatera Barat ini ternyata mengaku sempat merasa terpuruk. Dia kehilangan pekerjaannya sebagai dosen sehingga hanya mengandalkan honor ceramah untuk membiayai hidup keluarganya.
 

(TB Ardi Januar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya