BANDUNG – Kesabaran Inu Kencana Syafiie dalam menjalani hidup setelah terpuruk gara-gara disingkirkan dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ternyata berbuah manis.
Tiga tahun terpuruk, Inu akhirnya mendapat tawaran menjadi Rektor Universitas Pandanaran (Unpan) Kota Semarang.
“Saya sekarang di Semarang. Saya ditawari jadi Rektor Universitas Pandanaran Semarang. Dulu kan ada yang namanya Ki Ageng Pandanaran yang mendirikan Kota Semarang. Baru tiga hari ini. Pelantikannya belum, tapi surat keputusannya (SK) sudah keluar,” kata Inu kepada okezone, Rabu (4/8/2010) malam.
Inu mengatakan, tawaran tersebut baginya merupakan sebuah kesempatan bagus. Ia mengaku bersyukur mendapatkan kepercayaan dari universitas tersebut. Menurut Inu, semua yang diperolehnya sekarang adalah buah dari kesabarannya menjalani hidup dalam keterpurukan selama tiga tahun sejak disingkirkan dari IPDN.
“Awalnya saya hanya melamar sebagai dosen saja di sana (Semarang). Tapi ternyata saya mendapatkan tawaran bagus, menjadi Rektor Universitas Pandanaran. Ya, saya terima tawaran itu. Mungkin nanti setelah lebaran baru pelantikannya,” cerita Inu.
Inu menambahkan, selama berada di Semarang, ia tinggal bersama anak pertamanya, Raka Manggala Syafiie. Namun, lanjutnya, jika sudah resmi menjabat sebagai rektor, ia akan pindah ke Semarang dan tinggal di sana.
“Sekarang ini saya tinggal bersama anak pertama saya. Nanti kalau sudah positif menjabat, saya akan pindah ke Semarang. Mungkin nanti begitu selesai Lebaran,” tandasnya.
Sebelum ditawari menjadi rektor, Inu memang kerap melamar menjadi dosen ke beberapa daerah seperti Kalimantan. Bahkan, Inu sempat berpikir untuk melamar menjadi Ketua KPK. Namun niat itu urung dilakukan lantaran Inu mengaku tahu diri.
“Saya sempat berpikir untuk melamar menjadi Ketua KPK, tapi gak jadi. Soalnya, saya tidak punya latar belakang hukum,” kata Inu Kencana.
Inu Kencana memulai karirnya sebagai dosen IPDN (dulu STPDN) sekitar tahun 1996. Kemudian, sejak tahun 2003 ia secara intens mulai membongkar kasus-kasus kebobrokan di IPDN. Terakhir, Inu ikut membongkar kasus kematian seorang praja IPDN Cliff Muntu tahun 2007 lalu. Kasus tersebut menyeret beberapa petinggi IPDN hingga ke pengadilan.
Aksi Inu Kencana yang dinilai vokal dalam menyuarakan kebenaran di kampus IPDN berdampak buruk pada karirnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Setelah kasus Cliff Muntu mencuat, Inu disingkirkan dari IPDN. Ia kemudian dimutasi ke Depdagri dan tak mengajar lagi di IPDN.
Akhirnya, Inu pun mundur dari pekerjaannya itu, tanpa mendapat uang pensiun. Tiga tahun menghilang, pria kelahiran Kota Nagari Simalanggang Provinsi Sumatera Barat ini ternyata mengaku sempat merasa terpuruk.
(TB Ardi Januar)