UI Tambah Dua Profesor

Marieska Harya Virdhani, Jurnalis
Rabu 13 Oktober 2010 16:18 WIB
Image: corbis.com
Share :

DEPOK – Untuk sekian kalinya, Universitas Indonesia (UI) kembali mengukuhkan dua guru besar, yaitu Wiku Bakti Bawono Adisasmito sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Yahdiana Harahap sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA). Acara yang digelar di Balai Sidang UI tersebut dipimpin oleh rektor UI Gumilar Rosliwa Soemantri.

Wiku Bakti Bawono Adisasmito menyampaikan orasi ilmiahnya bertajuk Formulasi Kebijakan Kesehatan: Strategi Menghadapi The Disease of Tommorow melalui Pendekatan Systematic Review dan Asta Gatra. Menurutnya, The Disease of Tomorrow, adalah penyakit infeksi yang sewaktu-waktu dapat muncul secara cepat dan dapat mengakibatkan korban dan kerugian ekonomi yang besar di masyarakat.

”Untuk menghindari terjadinya The Disease of Tomorrow, diperlukan sebuah pendekatan solusi yang menggabungkan surveillance, manajemen wabah, systematic review terhadap hasil penelitian terkait dan analisis asta gatra,” ujar Wiku dalam orasinya, Rabu (13/10/2010).

Systematic review, kata dia, dapat dilakukan dengan meninjau faktor risiko The Disease of Tomorrow dari hasil berbagai penelitian multidisiplin di dunia. Kemudian, lanjutnya, hasil Systematic review digabungkan dengan data kesehatan yang dimiliki kemudian dilakukan simulasi wabah.

“Simulasi ini perlu digabungkan dengan pertimbangan lingkungan strategis asta gatra dalam memformulasi kebijakan kesehatan merespons ancaman penyakit tersebut, pertimbangan asta gatra penting mengingat kebhinekaan Indonesia baik dalam sosial budaya dan hayati,” tandasnya.

Sementara itu, Yahdiana Harahap menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul Peran Bioanalisis dalam Penjaminan Kualitas Obat dan Peningkatan Kualitas Hidup Pasien. Bioanalisis, kata Yahdiana, mempunyai peranan yang sangat penting dalam uji bioekivalensi dalam penjaminan mutu obat generik.

”Tantangan utama pelaksanaan uji bioekivalensi adalah mengembangkan metode bioanalisis yang tepat, karena kadar obat di dalam matriks biologi sangat kecil, sehingga dibutuhkan teknis pengukuran bioanalisis yang sangat sensitif, selektif agar dapat mengukur kadar obat terkecil dalam matriks biologi secara akurat," tandas Yahdiana.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya